Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

25 October 2016

Jejak Separuh

Jejak Separuh

Aku selimuti malam separuh
Petik nada di antara syi'ir
Petik jelaga di batas renta
Ada dawai seirama hati yang terbentuk bersama senja

Aku selimuti sejarah yang tak sempat dicatat
dalam malam separuh
Jemput nada untuk esok
Jemput mimpi untuk nanti
Ada jejak yang tetap harus diingat
meski kerap ada keringat mata tercerai

Aku selimuti malam dalam sejarah
setiap jejaknya adalah sejarah
setiap lakuknya adalah sejarah
Namun tak semua sejarah harus dicatat

Ada yang harus terlupakan
Atau dipaksa untuk dilupakan

18 June 2016

Bagaimana harusnya aku (1)

Bagaimana harusnya aku (1)

Bagaimana harus ku semai warna pelangi
ketika hujan terus saja datang menyeringai
mengubah terik jadi panik, mengubah cerah jadi gundah

Bagaimana harus ku maknai kata demi kata
ketika deret dan barisnya begitu menyentuh jiwa
mengubah senyum jadi dentum, mengubah dekat jadi pukat

Tak sanggup aku menjelaskan kerling yang berbias
di balik sunyi dan hening ada kilau, sangat menggoda
menelikung waktu yang ku punya dengan kata dan tanda

Tak mampu aku menguraikan suasana yang bergambar
sedangkan semua kian jauh saja,
melipat derai hujan tanpa payung dan menjadikannya tergenang
...aku yang membangun, aku yang merusaknya
...aku yang memintal awan, aku yang menjadikannya hujan
...aku yang melangkah, aku yang membuatnya berbekas

Bagaimana harus ku nikmati perjalanan ini
ketika jalan yang kita bangun adalah jembatan kecil nan rapuh
sangat mudah roboh diterpa tameng kenyataan
hanya bersandar pada sebilah batang bernama pengisi waktu luang



Bagaimana harusnya aku?

14 June 2016

Terjebak (2)

Terjebak (2)


Bagaimana bisa ku acuhkan harumnya
Ketika seisi ruang dipenuhi semerbak wanginya
Menyebar bersama angin hingga luruh segala ingin
Menikmati sejengkal waktu yang datang tanpa tentu
Menyatu dalam kalbu....

Bagaimana bisa ku pergi dari pusaran angin
Bila hasrat ingin menelikung lunglai hati yang dingin
Bagaimana bisa ku biarkan malam berlalu begitu saja
Bila di setiap detiknya ada suasana syahdu yang meraja


Ah, siapapun orangnya akan membiarkan diri terjebak
Mengendapkan diri dalam bingkai yang sama di ujung malam
Terikat kata hingga berlari waktu yang ada
Terikat rasa hingga berlalu segala yang dulu

Ah, aku menikmati jebakan ini...
Benar-benar ingin ku nikmati pukat istimewa ini
Sebuah perangkap yang dibangun dengan ketulusan,
Keceriaan, dan kicau ringan tanpa terjal sedikitpun
Meski kelak,
akan ada masa dimana aku harus terbiasa
Menikmati waktu sendiri saja.


12 June 2016

Terjebak (1)

Terjebak (1)

Sudah sudah,
jangan sesali datangnya hujan yang terlanjur bermukim
biarkan saja ia berderai membawa kepingan sesal di satu waktu
biarkan saja ia menggenang

Kadang, aku teramat pongah betapa diri ini kuat
menyombongkan diri tak goyah dihantam badai suasana
menafikan arti kedip dan kata layaknya celoteh belaka
membiarkan bias kecil padahal diri teramat kerdil
berlindung pada sayap kalimat:
untung saya lebih muda
untung saya sudah bertameng
untung kita jauh.

Sudah sudah,
biarkan diri larut dalam bejana cerita nyata namun tak nyata
bermandi dengan puji, kerling, dan senyum
mengakrabi musim di suatu malam dimana kalimat penuh hikmat mengalir bersama
meski ada tameng kokoh berlabel kita itu...!!!!

Ah, dari mana harus ku mulai sebuah kisah
manakala ide tumpul tertabrak bilik kagum
yang berkembang pada musim subur,
menyatu dengan awan lalu membentuk hujan setiap akhir malam

Kadang, bahkan sering, kita itu kecil dan kerdil,
menyalahkan baris waktu yang menyita hati
lalu menyalahkan diri sendiri.

Padahal, ada tangan takdir istimewa yang bermuara.
setiap kisah dibangun oleh Kuasa,
kita yang menjalani dan berusaha untuk tetap bisa menikmatinya,
sepahit apapun rasanya.

06 March 2016

Bagaimana????

Bagaimana????

bagaimana jika sebuah kapal berlayar tanpa nakhoda? yang ada ialah semua ABK berbondong-bondong jadi pemimpin. paling tidak untuk diri mereka sendiri. tidak ada yang mau diperintah,,,,
bagaimana jika sebuah kerajaan tanpa kehadiran sang raja sebagai panutan?

para patih tak bisa berebut kekuasaan sebab sang raja masih menjadi "raja" tanpa hadir sekalipun.
sementara sang prajurit bingung dengan langkah mereka. mau dibawa kemana?

hidup juga harus punya nakhoda dan raja?
jika tidak, nafsu yang berjumpalitan tanpa kontrol bisa jadi berkuasa,
arah mata angin dibutakan oleh keinginan dan selera.
sedang semua seolah tiada karena aku adalah aku, dan kamu itu fana.

hidup harus bernakhoda,
sebab kapal musti bersandar tuk lepaskan penat arungi lautan
hidup harus ada raja
sebab kita dapat tentukan jalan mana yang hendak dilalui. lurus, atau bahkan berbalik arah.

tapi dimanakah letak nakhoda dan raja itu ada dalam diri kita?