Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

20 November 2016

Asal Usul Desa Iker-Iker, Cerme

Si Macan yang Suka Buat Iker-iker

Desa ini sangat dekat dengan pusat kecamatan Cerme. Desa yang mempunyai nama sederhana ini biasa disebut Desa Iker-Iker. Daerah yang dilalui jalur utama Cerme ini berbatasan dengan Desa Cerme Kidul, Betiting, Boboh, dan Morowudi. Berikut cerita penamaan desa tersebut.
Desa ini memiliki 4 dusun, yaitu Iker-Iker, Jurit, Geger Wetan (Timur), Geger Kulon (Barat). Salah satu dusun dari desa ini adalah Jurit tempat berdirinya sekolah ternama yakni SMKN 1 Cerme.

Iker-iker berasal dari Eker-eker yang berarti kekacauan, atau berantakan sedangkan Geger sendiri mempunyai arti perkelahian. Geger dibedakan menjadi 2 yaitu Geger Kulon dan Wetan. Kalau Jurit? Tunggu dulu ada waktunya. Lain episode akan diceritakan....
Pada zaman dahulu kala, ada penjajah yang mau menjajah desa Iker Iker Geger. Sebelum para penjajah tiba di desa itu. Warga desa sudah melakukan antisipasi jika para penjajah datang. Mereka mengumpulkan prajurit-prajurit yang akan menyerang penjajah. Para prajurit itu berkumpul di suatu alas yang sekarang menjadi Dusun Jurit.
Saat para prajurit sedang melakukan aktivitas persiapan untuk melawan penjajah, datanglah seorang yang katanya sih sakti bin hebat. Tapi dia selalu membuat ulah. Dia selalu mengganggu warga yang tinggal di dusun yang sekarang dinamakan dusun Geger. Dia selalu membuat gara-gara di situ. Dia mendapat julukan dari warga sekitar Si Macan. Warga kesal akan tingkah laku Si Macan tapi warga takut untuk melawan. Si Macan selalu memberantakkan, membuat kekacauan yang sekarang memiliki nama dusun Iker-Iker yang berawal dari “eker-eker” (berantakan).
Cukup lama para warga memendam rasa ingin untuk melawan Si Macan. Akhirnya tercapai juga keinginan itu, mereka bersama-sama melawan Si Macan dan Si Macan pun terkalahkan. Jasad Si Macan dimakamkan di bawah jembatan yang sekarang nama jembatannya yaitu “Jembatan Macan Mati” yaitu tempat Si Macan mati. Yang juga menjadi perbatasan antara desa Iker-Iker Geger dengan desa Cerme Kidul.
Begitulah sejarah singkat penamaan desa Iker-Iker Geger. Semoga bermanfaat.

Asal Usul Desa Guranganyar, Cerme

Sego Kurang di Desa Guranganyar

Ada sebuah desa dengan nama yang sederhana namun berkesan. Namanya Desa GURANGANYAR. Desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Cerme. Desa ini berbatasan dengan Desa Morowudi, Dampaan, Dungus, Betiting, dan Ngabetan.

Pada zaman dahulu, ada sebuah pemukiman yang berpenduduk  banyak, hidup rukun, dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Pada suatu hari datang sebuah bencana yang menghancurkan desa tersebut. Keributan terdengar di mana-mana, semua orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing. Tapi apa hendak dikata semua terjadi begitu tiba-tiba dan terlalu cepat. Guntur (nama bencana loh bukan nama orang/ semacam makanan) datang dan menghancurkan semua yang ada. Pepohonan yang ada tumbang semua. Rumah, hewan, bahkan manusia tergulung oleh tanah dan angin (kata narasumbernya sih gitu, mirip Tsunami kecil lah).
Dari peristiwa tersebut yang berhasil selamat  hanya 4 orang. Mereka akhirnya pergi dan mencari tempat tinggal lain. Mereka tinggal di sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Setelah mereka menikah mereka kembali ke desa tersebut dan menjadi sebuah keluarga. Penduduknya pun bertambah dan menjadikan desa ini ramai. Tapi hanya ada satu warung yang tersedia desa ini dahulunya dilanda bencana yang cukup dahsyat. Setiap ada orang yang beli makanan pasti nasinya kurang. Bahkan, meskipun porsi masakan (nasi) sudah ditambah tetap saja kekurangan nasi (aneh juga ya? Siapa yang makan? Jangan-jangan!).
Karena hal tersebut daerah yang baru ditempati itu dinamakan desa GURANG dari kata sego kurang. Nah sudah tau kan???ternyata begitu berat kehidupan orang-orang dahulu. Meskipun cara penyampaiannya gak terlalu menarik dan terkesan mbulet tapi moga teman-teman dapat memaklumi karena cerita ini dari mulut ke mulut jadi agak semrawut.
Penyebutan GurangAnyar sendiri berkaitan dengan adanya beberapa dusun berlabel Gurang di desa tersebut misalnya Dusun Gurang Wetan dan Gurangkulon. 

Asal Usul Desa Ngepung, Kedamean


Namanya Desa Ngepung. Desa ini berada di wilayah Kecamatan Kedamean dan berada di jalan utama Gresik – Krian. Nama desa yang berbatasan dengan Desa Karangandong, Mojosarirejo, dan Wedoroanom (Driyorejo) ini mempunyai kisah yang menarik.
Cerita ini berawal dengan gugur Syahidnya pembela agama Islam bernama Sahid Fisabilillah. Beliau ditugaskan sang Sunan melakukan pembinaan syariat Islam di daerah tersebut.
Kedatangan para Santri disambut dengan suka cita oleh penduduk kampung. Pada pagi hari ketika para Santri memberikan pelajaran Syariat Islam kepada para warga selepas sholat subuh. Pasukan Majapahit datang dalam jumlah besar. Pasukan tersebut langsung mengepung desa dalam barisan yang rapat. Kepanikan melanda seluruh kampung. Wanita dan anak-anak disembunyikan. Kaum laki-laki segera bergabung dengan santri Giri.
Salah seorang santri memberikan pengarahan tentang strategi yang akan digunakan, maka para santri dan penduduk segera membentuk barisan pertahanan di balik pohon dan semak-semak yang mengintari desa. Melalui satu komando, secara serentak pasukan berkuda Majapahit menderap maju dalam laju yang kencang dan pedang terhunus. Strategi Santri Giri nampaknya berhasil. Jerit kesakitan dan kematian melengking dari mulut ke mulut pasukan Majapahit. Melihat situasi tersebut pimpinan pasukan berkuda memerintahkan segera mundur. Sorak kemenangan beserta takbir berkumandang.

Namun penduduk desa itu pun sadar bahwa pasukan Majapahit belum sepenuhnya dapat mereka kalahkan. Ternyata benar dugaan mereka, tiba-tiba anak panah datang berseliweran menembus apa saja yang berada di depannya. Beberapa penduduk terkena anak panah. Kini Santri Giri menghadapi pasukan Majapahit yang jumlahnya 30 kali lipat lebih besar tanpa bantuan penduduk desa. Sejenak muncul kecemasan di wajah Santri Giri. Namun kecemasan tersebut hilang dan berganti keberanian manakala salah seorang dari mereka meneriakkan takbir. Disongsongnya pasukan majapahit yang datang mengepung  dari seluruh arah. Jumlah yang tak berimbang tersebut menyebabkan Santri Giri dalam sekejap telah gugur sebagai Syahid. Nach dengan peristiwa tersebut kemudian desa itu kini dinamai DESA NGEPUNG  (terkepung gitu)

Asal Usul Desa Morowudi, Cerme


Morowudi terletak berdekatan dengan  pusat kecamatan Cerme (±3 km arah selatan). Desa ini cukup ramai karena berada di jalan utama Cerme. Desa ini berbatasan dengan Desa Iker-Iker, Boboh, Putar Lor, Sukoanyar, dan Guranganyar.
Penamaan desa ini berkaitan dengan era sebelum Indonesia merdeka. Ketika itu, Belanda pada suatu daerah yang belum banyak penduduknya (sekitar 10-15 rumah doang). Dengan kedatangan penjajah ke daerah ini, para penduduk merasa ketakutan dan akhirnya mereka semua mengungsi ke daerah barat yaitu Mantup, Lamongan, Metatu, dan  sekitarnya. 

Untuk merebut daerah ini penjajah menjadikan Moro sebagai markas besar mereka dan  sekarang markas itu menjadi sekolah “Muhammadiyah“. Untuk melancarkan aksinya penjajah menjadikan salah satu penduduk daerah ini untuk menjadi lurah dari Belanda. Tapi lurah Belanda (Pak Tasmo) tak sepenuhnya berpihak pada Kompeni, tapi juga berpihak pada daerah ini. Apa yang  direncanakan pasti Pak Tasmo memberi tahu rencana tersebut kepada para penduduk dan  tentara yang membantu penduduk daerah ini untuk mengusir Belanda.
NICA menjajah daerah ini mulai dari bagian Timur ke Barat. Karena itu, penjajah dikepung oleh sekelompok tentara dan  pasukan para ulama “Qisbulwaton” dari daerah Mojokerto, Pasuruan ,dan  sekitarnya. (yang sekarang daerah itu bernama Dusun Ngepung). Melihat kalo mereka  telah dikepung, penjajah tidak melanjutkan ke daerah bagian Barat melainkan kembali lagi ke daerah bagian Timur dan  al hasil di daerah bagian Timur juga sudah di kepung, akhirnya penjajah tidak bisa berkutik lagi alias berdiam diri di daerah tersebut. (sekarang disebut Dusun Tandegan).
Kemudian penjajah berpikir atau bersiasat bagaimana caranva  untuk keluar dari daerah ini dan  penjajah menemukan sebuah daerah yang sangat terpencil, akhirnya mereka melarikan diri dengan lari terbirit-birit. (sekarang disebut Dusun Ngebret )
            Jadi, kata “MORO” itu berasal dari kedatangan penjajah, sedangkan kata “ WUDI “ itu diartikan Belanda mencari kedudukan. Morowudi terdiri atas 5 Dusun diantaranya yaitu Morowudi Wetan, Morowudi kulon, Ngepung, Tandegan,  dan Ngebret.

Asal Usul Desa Kambingan, Cerme

          

           Desa ini bernama Desa Kambingan. Mendengar namanya, pasti sebagian dari kita senyum aneh. Padahal, desa yang berada di wilayah kecamatan Cerme dan berbatasan dengan Desa Semampir, Dungus, Wedani, dan Ngabetan ini mempunyai cerita tersendiri.
            Awal mulanya, Desa ini ditempati oleh seorang yang bernama Mbah Singa Barong (seseorang yang konon sakti). Sebenarnya nama desa tersebut adalah Desa Matamu. Suatu hari, ada seorang pemuda yang bertanya kepada Mbah Singa barong, “Maap Mbah, kalo boleh saya tahu ini desa apa?” “Desa ini namanya gak sopan nak, apa kamu masih ingin tau?” Jawab mbah Singa Barong. Pemuda itupun berkata “Ya Mbah gak papa”. “Baiklah, desa ini namanya Desa Matamu”. Jawaban Mbah Singa Barong. Pemuda itupun seketika marah. Karena dia merasa telah dihina oleh Mbah Singa Barong. Akhirnya mereka berdua bertengkar, kejadian itupun selalu terjadi setiap ada orang yang bertanya apa nama desa tersebut.
            Di sebelah barat desa ini ada sebuah daerah terkenal dengan pendekarnya yang sakti, sombong & tak tertandingi. Pendekar itu sering menantang siapapun (edan-edanan), yang kemudian daerah tersebut kita kenal dengan nama Desa Wedani. Mbah Singa Barong yang mendengar berita tersebut, berinisiatif untuk menantangnya bertarung. Mereka sepakat siapa yang menang maka akan mendapatkan daerah kekuasaan (perbatasan) yang bernama Keramat. Setelah bertarung, mbah Singa Barong jadi pemenang.
Di daerah Keramat, hidup seorang janda dan putrinya yang cantik jelita. Setiap pagi janda itu pergi ke pasar. Suatu hari saat janda itu pergi ke pasar, sang anak bermaksud untuk menyusul ibunya. Namun sebelun dia sampai di tempat tujuan, dia dirampok & akhirnya dia dibunuh. Namun perampok itu tidak mau menguburnya melainkan ditelantarkan. Warga Desa Matamu yang melihat sosok mayat yang tergeletak ,berniat untuk mengubur. Sebelum dikubur mayat putri cantik tersebut di pajang di sawah panjer setinggi pohon bambu. Kejadian tersebut diketahui oleh Mbah Singa Barong, dia mengajak seluruh keluarga besarnya berbondong-bondong menyaksikan kejadian tersebut seperti “ Wedos kemriak “.

Akhirnya desa yang semula bernama Desa Matamu diganti menjadi  Desa wedusan  (mengambil istilah Wedos kemriak) yang sekarang kita kenal dengan nama Desa Kambingan.

Asal Usul Desa Sumengko, Duduksampeyan


Sumengko, desa yang terletak di kecamatan Duduksampeyan ini bisa dibilang desa yang cukup luas dan makmur. Desa yang berjarak 1 kilometer dari perempatan Duduksampeyan ini memiliki banyak cerita dan legenda tentang asal usul berdirinya. Seperti yang dikatakan oleh para sesepuh desa Sumengko, yang pada zaman dahulu ada salah seorang yang ahli meditasi di tempat yang angker keramat (pepunden) oleh masyarakat sumengko sering berjumpa dengan seorang perempuan yang mengaku orang pertama yang membuka desa sumengko, orang pertama tersebut bernama MULYO REJO NING SRI dari nama orang pertama tersebut itulah nama aslinya desa sumengko yaitu DESA MULYOREJO .
Adapun cerita berbeda menjadi sumengko yang sekarang adalah karena kehidupan yang menyedihkan dirasakan oleh masyarakat desa sumengko tapi terjadi tahun berapa pun itu tidak dijelaskan yaitu: Sumpek dan Nyengko dirasakan oleh perempuan itu yang menurut bahasa Indonesia menyedihkan dan mencekam. Akhirnya, dari dua kata tersebut diambil dari suku kata sum dan nyengko maka menjadi kata SUMENGKO.
Ada juga yang mengatakan bahwa asal usul desa Sumengko yakni pada awalnya di sebuah wilayah yang tidak terlalu luas, yang dihuni oleh beberapa orang saja dan di sekitar itu terdapat banyak tanaman tetapi kebanyakan tanaman tersebut pohonnya yang merambat dan terdapat buah yang bulat dan dalamnya berwarna merah. Suatu hari wilayah tersebut ditebangi tetapi satu tanaman yang tidak ditebang. Kemudian buah itu dinamakan semangka karena buahnya yang bulat dan rasanya sangat segar. Beberapa hari kemudian banyak orang yang berdatangan ke wilayah tersebut untuk melangsungkan hidupnya. Lama kelamaan wilayah tersebut sangat ramai dan banyak penghuninya . Dan wilayah tersebut belum ada namanya ada satu orang yang berpendapat wilayah tersebut dinamakan “SUMENGKO”, karena banyak tanaman semangka.
            Tambahan informasi, di desa ini ada dua makam keramat yakni Mbah Sarkowi (prajurit dari kerajaan Giri era Sunan Prapen) dan Raden Qosim (versi 1: ulama dari Tuban, versi 2: dari Drajat).

Asal Usul Desa Balongmojo, Benjeng


Desa ini bernama Balongmojo. Desa yang masuk wilayah kec. Benjeng ini termasuk satu dari desa di Benjeng yang cukup besar, terutama jika dilihat dari jumlah dusun di dalamnya.
Balongmojo berasal dari kata “balong” yang berarti kolam, dan “mojo” adalah nama pohon yang buahnya berasa pahit. Di tempat ini dahulu kala terdapat banyak pohon mojo disekitar balong atau kolam. Sehingga wilayah ini dikenal dengan nama Desa Balongmojo. Desa ini disebut sebagai tempat penampungan air, sampai sekarang di Desa Balongmojo tidak pernah kekurangan air. Bahkan menjadi tempat jujugan desa tetangga untuk ngangsu (mengambil air) saat musim kemarau, karena sumber air di desa masing-masing mengering.
Di desa tersebut ada wilayah yang disebut Dusun Balongmojo Krajan. Itulah nama dusun yang saya cuplik karena itu adalah dusun saya. Nama krajan dimungkinkan memiliki kesamaan dengan kata kerajaan. Krajan umumnya adalah sebagai pusat pemerintahan. Walaupun belum pernah ditemukan benda purbakala di desa ini, yang menunjukkan dahulu sebagai kerajaan.
Yang unik, sebanyak 5 dusun memiliki nama Balongmojo, yaitu Balongmojo Krajan, Balongmojo Sawahan dan Balongmojo Kulon. Sedangkan dua dusun lainnya Balongmojo Kidul dan Balongmojo kepuh di wilayah Desa Balongtunjung. Dusun Balongmojo Krajan, memiliki tempat keramat di telaga sebelah SD Negeri Balongmojo. Dahulu kala menjadi tempat keramat bagi warga dan dikenal dengan Tlogo Jati.
Pada masa pemerintahan lurah Maeran, rumah penduduk sudah cukup banyak tetapi lokasinya terpencar. Kemudian lurah Maeran menata rumah agar saling berdekatan dan berkelompok. Setelah pemukiman sudah berkelompok, jalan kampung sudah baik, kebijakan berikutnya pembuatan pagar rumah. Bagi warga yang mendapat arisan kampung (sepen) diharuskan membuat pagar depan rumah, tradisi ini sampai sekarang masih dijaga dengan baik. Hasilnya bisa kita lihat dan bandingkan dengan desa-desa lainnya, desa Balongmojo penataan kampung lebih rapi.

Desa Balongmojo dalam berbagai kesempatan, termasuk salah satu desa terbaik di kawasan Benjeng. Sering mewakili kecamatan dalam berbagai lomba di tingkat Kabupaten Gresik.

Asal Usul Dusun Munggusoyi, Munggugebang, Benjeng


Kali ini kita akan membahas tentang Dusun yang ada di kec. Benjeng. Munggusoyi namanya. Dusun ini merupakan bagian dari desa Munggugebang. Selain dusun ini, di Munggugebang juga terdapat dua dusun lain yakni Dusun Munggugebang dan Ngemplak. Lokasinya berbatasan dengan Desa Banter, Klampok, dan Sirnoboyo.
Untuk menuju lokasi dusun ini cukuplah jauh. Kita harus masuk lewat beberapa dusun yang lain semisal Dusun Kalisari
Dahulu, banyak sekali brandal yang hidup di sekitar daerah ini. Pada saat itu warga sangatlah risih dengan perlakuan penjahat desa tersebut. Karena jumlah berandal-berandal tersebut sangatlah banyak, warga kebingungan untuk menangani mereka.

Suatu hari, ada seorang pengembara dari luar yang menyarankan agar para brandal tersebut dibawa ke dusun yang banyak sesepuhnya (yang dimaksud adalah dusun Munggusoyi).
Warga pun setuju dengan saran orang asing tersebut, dan dengan tekat yang kuat warga sekitar sama-sama berkumpul guna menangkap segelintir perusuh desa itu. Setelah dirasa misinya berhasil, penjahat tersebut kemudian dibawa dan dihadapkan oleh beberapa sesepuh desa, kata orang-orang dulu sih brandal itu diajak untuk berbuat baik terhadap sesama.
Pada saat itu juga masyarakat desa dikumpulkan untuk diajak “monggo sae” (bahasa Jawa) yang artinya sama-sama berbuat baik. Lama kelamaan para sesepuh tersebut ada yang mengembara meninggalkan desa dan ada juga yang meninggal, sementara yang meninggal dimakamkan oleh warga sekitar di dekat  telaga  dan ada juga yang ditengah-tengah sawah. Mungkin hal tersebut bermaksud agar  warga sekitar selalu menghargai dan mengingat keberadaan sesepuh yang pernah singgah di desa ini.
Singkat cerita, pada saat itu kondisi desa belum menyandang nama apapun, akhirnya kata “monggo Sae” tersebut dijadikan sebagai nama sementara untuk desa itu. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang singgah ke desa ini dan memanggil dengan sebutan “munggusoyi”, jadi hingga sekarang desa ini tetap dengan nama “munggusoyi”. 

Asal Usul Desa Bunderan, Sidayu

Desa untuk Persatuan

Desa Bunderan (beda sama Bunder lho) merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Sidayu. Bunderan merupakan desa yang terdiri dari 3 Pedukuhan/dusun, yaitu dusun Buyungan, dusun Pelawean, dan dusun Ngablak.  Tiga nama dusun tersebut dilatar belakangi oleh Pekerjaan/aktivitas yang berbeda-beda.
Yang pertama Dusun Buyungan. Dusun ini merupakan pusat pembuatan kerajianan dari tanah liat (lempong). Dulu, hampir semua penduduk di dusun ini berprofesi menjadi pengrajin tanah liat. Nah,  jika mau mengambil air di telaga rambit (satu-satunya sumber air saat itu) mereka menggunakan Buyung (tempat/alat untuk mengambil air yang terbuat dari tanah liat). Dari kata ‘buyung’ tersebut akhirnya dusun ini terkenal dengan nama buyungan. Namun tidak hanya memproduksi buyung saja, dusun ini juga memproduksi cobek, ulek-ulek, genuk (untuk menyimpan persediaan air), padasan (tempat air wudhu), jambangan (bak mandi), kemaron (wadah cuci baju/piring), dan lain-lain. Sayangnya, kini pengrajin tahan liat di dusun ini kian habis, karena faktor regenerasi.
Kedua, dusun Pelawean yang berasal dari kata ‘Lawe’ berarti benang. Jadi dulunya, hampir semua warga dusun ini menghasilkan barang yang berbahan dasar benang seperti, sarung tenun, kain, hingga batik. Namun karena alasan yang sama seperti dusun buyungan, kini pengrajin-pengerajin tersebut sudah punah, dan tidak tersisa satupun. Sekarang dusun ini lebih dikenal dengan pembuatan kerupuk ikan. Kerupuk ikannya gurih, dijamin ketagihan!
Dusun yang terakhir yakni dusun Ngablak. Kata Ngablak berasal dari kata “Ngeblak” yang memiliki arti yang kurang baik, yaitu perempuan penghibur/tuna susila. Jadi dulunya, dusun ini jadi tempat hiburan-hiburan gitu. Tapi tenang sobat, ketika Islam mulai masuk ke Gresik, terutama di Sidayu, dusun yang awalnya kagak bener ini berangsur-angsur membaik, dan para tuna susila berpindah ke tempat lain. Kini, dusun ini terkenal dengan pembuatan pande besi yang memproduksi alat-alat pertanian.

Nah, kurang lebih abad ke-11, kepala dari 3 dusun tersebut melakukan perundingan untuk bersatu dan membentuk sebuah desa.. dan nama BUNDERAN akhirnya dipilih, yang bermakna mbunder atau satu kesatuan yang bulat. Hal tersebut selaras dengan tujuan 3 dusun tersebut di awal perundingan.

26 October 2016

Asal Usul Desa Dungus Cerme

Dungus Berawal dari Ndungo
Dulu ada sebuah desa yang tidak diketahui namanya, penduduknya masih belum memeluk agama Islam. Setiap hari mereka tidak pernah lupa untuk mengirim sesajen ke tempat yang mereka anggap suci, yakni sungai yang ada di sekitar gunung kecil di desa tersebut. Tempat tersebut menjadi tonggak keselamatan di desa itu. Jika tidak ada sesajen bisa meletus tuh gunung dan pasti membahayakan keselamatan para penduduk (katanya sih gitu). Suasana mistis dengan mempercayai hal-hal seperti itu sangat melekat dengan ditandai keadaan malam yang sunyi, sepi, gelap dan hanya ada lilin + sesajen di desa tersebut.

Dan, suatu ketika ada seorang laki laki yang menunggang kuda dengan ditemani seekor anjing datang ke desa. Laki laki itu menetap disana dan menciptakan perubahan di desa yang dulu hobby ngirim sesajen itu. Penduduk desa tersebut memeluk agama Islam semua dan taat beribadah. So, saat ada peperangan terjadi, mereka tidak mengalahkan musuh dengan senjata melainkan hanya dengan kekuatan doa atau Ndungo dalam bahasa jawa. Mereka berdoa terus menerus sampek ngos-ngosan/kecapekan, hingga alhasil menang. Karena itu, desa ini diberi nama "ndungus". Dari kata ndungo terus sampek ngos-ngosan. Tapi sekarang penulisannya menjadi "DUNGUS".
Oh iya, sebelum kalian masuk desa di kecamatan cerme bagian barat ini yang tepatnya, kalian akan melewati dusun Bogomiring dulu. Lha kalo ini namanya diambil dari peristiwa gunung kecil yang meletus karena marah tidak diberi makan sesajen. Saat meletus mengenai seorang nenek tua penunggu gunung itu sendiri hingga mati dengan keadaan bokongnya miring. Karena itulah dusun tersebut dinamai Bogomiring.
Ada satu dusun lagi pada desa dungus ini namanya dusun "Kendal". kalau yang ini namanya diambil dari sifat para penduduk yang pemberani, kendel dalam bahasa jawanya. Karena jasa dan kebaikannya, lelaki penunggang kuda yang berhasil memberi dampak positif pada warga dikenal sebagai sesepuh di desa dungus. Makam beliau ada di tengah-tengah sawah, sering juga didatangi oleh penduduk setempat.
Kini, desa Dungus sudah berkembang pesat. Di desa ini jumlah penduduknya terus bertambah seiring dengan dibukanya perumahan semisal Perum Queen Residence dan Perum Patra Raya.

Asal Usul Desa Randu Agung Kebomas Gresik

Pohon Randu yang Agung (Besar)
Desa yang terletak di kecamatan kebomas dan di kabupaten gresik ini mempunyai asal-usul yang cukup sedikit membuat hati kita dag dig dug. RANDUAGUNG terdapat 2 suku kata yaitu Randu dan Agung, Randu adalah nama Tanaman yang berbuah dan buahnya dapat di manfaatkan sebagai isi dari bantal, atau sering di sebut pohon kapuk. Sedangkan Agung dalam kamus besar bahasa Indonesia memilki arti besar, maka dapat di artikan pohon randu yang besar.

Sebelum dijadikan perkampungan oleh warga sekitar konon katanya pohon ini mempunyai batang yang amat besar dan sedikit mistik, dahulu kala pohon ini terdapat di daerah SMP negri 2 kebomas  yang sekarang sudah menjadi perumahan.
Dahulu kala tidak ada yang berani untuk memotong pohon itu karna banyaknya hal mistis yang berada di bawah pohon randu tersebut. Bahkan orang yang sudah tua pun tidak berani untuk memotongnya. Karena banya orang mengatakan jika pohon randu itu di tebang maka akan terjadi bencana di daerah tersebut. Lambat laun dengan bertambahnya usia si pohon randu ini pohon tersebut  tumbang dengan sendirinya tanpa ada angin, hujan, maupun badai. Maka sejak itulah tumbangnya pohon ini akhirnya warga mulai mendirikan rumah-rumah dan menjadi sebuah desa yang cukup luas dan desa itu bernama RANDUAGUNG.
Keberadaan pohon-pohon randu yang besar di desa tersebut sampai kini masih ada beberapa. Hal itu pula yag memperkuat mitos pemberian nama Randuagung yang merujuk pada pohon randu yang besar. Wallahu A’lam.

Kini, Desa Randuagung menjelma jadi wilayah perkotaan yang membunjur sepanjang jalan Dr Wahidin SH bagian tengah sampai sebagian wilayah GKB. Di desa ini juga terdapat kantor-kantor penting semisal Satlantas, BPBD, koramil, Disbudpora, dll. Bukan hanya itu, jumlah penduduk desa tersebut termasuk yang terbesar di Gresik. Terbukti ketika pemilu, ada 25 TPS (rata-rata per TPS 300 – 550 orang) di wilayah tersebut.

25 October 2016

Asal Usul Desa Banjarsari Cerme

Banjarsari Desa Antibledek
Kali ini kita akan mengulas sejarah dari Desa Banjaranyar atau sekarang berganti nama dengan Desa Banjarsari. Desa ini berada di sisi selatan terminal Bunder. Lokasinya strategis dan ramai karena cukup dekat dengan perkotaan.

Dahulu kala Desa ini tidak berpenghuni dan berbentuk hutan yang mengerikan. Setelah ada penebangan hutan, banyak orang coba membangun rumah disana. Lambat laun, hutan tersebut sudah rata dengan rumah-rumah penduduk. Akan tetapi, tidak ada sebutan untuk desa yang baru itu.

Di siang hari, seorang penduduk pergi ke sawah. Penduduk itu pergi ke sawah dengan berjalan kaki. Akan tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, penduduk tersebut melihat seorang penduduk tetangga  tengah menertawakan sesuatu. Ternyata sesuatu yang tengah ditertawakan adalah kakek tua yang tercebur di sawah dengan sepeda kayuhnya. Karena merasa iba, penduduk itu menolong dang memberikan air putih yang dibawanya dari rumah. Sementara penduduk yang tadinya menertawakannya, pergi meninggalkan kakek tua dan penduduk tersebut. Dengan spontan kakek tua itu berkata “matursuwon bocah. Panjenengan sampun nyelametno kulo. Jenengono desomu iki Desa Banjaranyar”. Dan dengan spontan pula kakek itu menghilang. Penduduk tersebut terkejut dan berlari pulang untuk memberitahukan pada warga. Semenjak itulah desa tanpa nama itu menjadi Desa Banjaranyar.
Selanjutnya, pada suatu sore yang mendung disertai kilat yang menyambar-nyambar seorang warga Padeg tengah pulang ke rumahnya. Di tengah jalan ia mendapati seekor merpati yang dipenuhi duri di tubuhnya, mengerang kesakitan minta tolong pada warga Padeg tersebut. Tapi apa yang didapat, warga tersebut malah mengolok-olok burung itu. Tanpa sengaja, warga Banjaranyar datang dan segera mencabut duri-duri pada tubuh burung merpati tersebut.
Setelah selesai, penduduk itupun bertanya pada sang burung “lapo koen sampek ngene?”. Burung itu menjawab “aku ape moleh nang sarangku, tapi geledek nyamber aku lan aku ketangsang nang nggone wit iki. Moro-moro duri iki nancep nang awakku kabeh. Matursuwon koen wes nulong aku cah. Inget-ingeten sumpah serapahku iki yo cah, uwong Desa Banjaranyar iki lan sak keturunan.e ora bakal ono seng kesamber geledek”
Setelah sang merpati pergi, tiba-tiba petir menggelegar begitu hebat dan penduduk Padeg yang berada di situ tewas tersambar petir. Sedangkan penduduk Banjaranyar tersebut, selamat. Setelah kejadian itu, penduduk Banjaranyar pun berunding. Akhirnya, sesuai kesepakatan bersama desa yang awalnya bernama Banjaranyar berganti menjadi Desa Banjarsari. Mengapa demikian?? Karena kata “banjar” adalah nama pertama dari desa ini yang diberikan oleh kakek-kakek tua tersebut. Sedangkan “sari” adalah pengharapan agar warga di desa itu menghasilkan sari-sari kebaikan untuk masyarakat sekitar.

Asal Usul Desa Sungonlegowo Bungah

Lokasi desa ini cukup jauh ± 25 KM sebelah utara pusat kota Gresik. Desa ini dikenal dengan para juragan tambak yang berpenghasilan lebih. Desa ini berbatasan langsung dengan aliran sungai Bengawan Solo. Ada yang tahu? Yupz, SUNGON LEGOWO namanya. Desa yang cukup luas ini berada ± 2,5 KM di sebelah timur kantor kecamatan Bungah.

Asal nama Sungonlegowo semula berasal dari kata Kungonlegowo (pada sekitar masa perdikan Demak)  kemudian berubah menjadi Sungonlegowo (pada perdikan mataram/sekitar tahun 1600 M) atau tepatnya pada masa pemerintahan kadipaten Sedayu berpindah dari Sedayu lama ke Sedayu baru. Nama Kungonlegowo dipakai pada 3 demang yaitu : masa Demang Ridin, Demang Kason dan Demang Bunyamin, Kungonlegowo dimaksudkan adalah 2 kampung yaitu kampung kungon (posisinya di sebelah barat masjid Ngaren dan ke selatan sampai kampung langgar sedangkan kampung legowo (posisinya di sebelah timur masjid sungonlegowo), nama desa Sungonlegowo muncul pertama kali pada masa pemerintahan distrik Bungah, tepatnya pada masa demang ke IV yaitu Demang Taman (Atro Dikromo).
Legowo sendiri tidak ada keterangan yang jelas namun menurut sesepuh setempat asal-usul nama desa Sungonlegowo yang lebih jelas dalam cerita pewayangan yaitu nama salah satu dari raja kediri yang merantau karena sang raja mengambil permaisuri lagi, salah satu putra bernama legowo yang merantau akhirnya sampai di sebuah desa Sungonlegowo yang berada di Gresik, dan putra raja kediri satunya mengembara sampai ke probolinggo. Apakah benar seperti itu? Wallahu A’lam. Sebagai informasi, sungonlegowo terdiri dari dusun legowo dan dusun Ngaren. Legowo berasal dari bahasa jawa yang dalam bahasa sangsekertanya berarti “tidak gampang menyerah”, sedangkan Ngaren berasal dari kata leren (pemberhentian) proyek penggalian sungai (bengawan solo) dari Ngawi ke ujung pangkah.

Adapula yang menafsirkan secara sederhana bahwa istilah sungonlegowo itu berarti “menjadikan sifat tidak gampang menyerah, ikhlas, dan sabar dalam diri penduduknya” 

Asal Usul Desa Cagak Agung Cerme

Ada tiang utama di Cagak "Agung"
Desa ini berlokasi tidak jauh dari pusat kecamatan Cerme. Desa yang sebagian wilayahnya berupa tambak/sawah ini cukup makmur penduduknya. Desa ini bernama Desa Cagak Agung.

Desa ini, selain ada beberapa perumahan yang dibangun di wilayahnya, juga terbagi atas dua dusun yakni Dusun Cagak dan Dusun Agung/Panggang. Desa ini juga cukup ramai mengingat sebelah selatan dari desa ini berhadapan langsung dengan Pasar Cerme.
Konon katanya nama Cagak Agung itu berasal dari kata cagak yang artinya tonggak, penyangga, tiang sedangkan kata “agung” berarti besar, tangguh, dan sejenisnya. Nama ini bermula pada saat bangsa Belanda (penjajah) datang ke desa yang nantinya akan dinamai dengan desa Cagak Agung tersebut.
Tahu nggak kawan, ternyata dahulu di tengah-tengah desa ini terdapat tonggak atau tiang dari pohon yang sangat besar. Pada saat penjajah akan memasuki desa yang bersebelahan dengan desa Cerme Lor tersebut, tonggak atau tiang tersebut seperti menutup-nutupi desa sehingga penjajah pun kebingungan dan tidak bisa menemukan desa itu hingga akhirnya orang orang jahat itupun memutuskan untuk get out dari tempat ini.
Setelah kejadian tersebut, desa yang belum mempunyai  nama itu akhirnya diinamai oleh sesepuhnya dengan nama CAGAK AGUNG hal ini digunakan agar orang orang yang tinggal di desa tersebut masih mengenang kehebatan cagak. Selain itu nama cagak agung juga diberikan untuk mengucapkan terima kasih pada CAGAK yang telah menyelamatkan desa ini
Oke, itulah sekilas tentang nama  CAGAK AGUNG  yang disandang desa di wilayah Cerme Tersebut. Anda punya versi lain? Dipersilakan. Karena yang utama, tiang utama di Desa Cagak Agung semoga bisa menjadi penanda kehebatan orang-orang di desa tersebut guna turut serta membangun bangsa ini.

Asal Usul Desa Boteng Menganti

Abot Enteng di lakoni bareng-bareng
Sebagai bagian dari wilayah Gresik sisi selatan, Menganti juga mempunyai deretan asal usul penamaan desa/dusun. Salah satunya yakni penamaan Desa Boteng. Desa yang telah berkembang pesat dan mempunyai deretan perumahan dan dusun ini juga mempunyai cerita tersendiri dalam lahirnya kata “Boteng” untuk daerah tersebut.

Desa Boteng terletak di tepi sungai Lamong di selatan Desa Boboh, secara toponimis dapat ditafsirkan sebagai kediaman para pedagang, tempat memuat barang-barang berat, angkutan danau yang menunjuk pada terjadinya aktivitas perniagaan di pusat pemerintahan Giri di pedalaman.
Dari segi pengertian desa Boteng itu merupakan Singkatan dari kata Abot – Enteng, dalam arti indonesia berarti Berat – Ringan. Sebenarnya dari pemberian nama tersebut tidak ada legenda khusus yang mendasarinya. Dengan diberi Nama itu, sebagai doa agar Masyarakat Desa Boteng ini selalu memiliki Sikap Gotong royong,entah hal itu berat atau ringan.
Meski tak ada legenda khusus, sejatinya nama tersebut merujuk pada daerah tersebut sebagai lokasi memuang barang-barang berat, dll pada masa pemerintahan Giri. Artinya, karena adanya banyak aktivitas berat, maka Abot-Enteng (berat-ringan) musti dikerjakan secara gotong royong.

Desa Boteng juga memiliki yang Mbabat Alas alias Pembuka desa nya. Yaitu mbah Jenggot. Kenapa disebut Mbah Jenggot? Karena beliau adalah Sesepuh/tertua di Desa tersebut. Makamnya terletak di daerah desa Boteng pastinya tapi letaknya cukup jauh yakni masuk ke pelosok Desa Boteng. Makamnya cukup bagus dan terawat, jadi kalau ada yang mau jalan jalan untuk wisata religius juga bisa mampir ke situ. Tinggal tanya tanya aja ke warga sekitar pasti semua tahu. 

08 August 2016

ASAL USUL DESA DERMO BENJENG

Dermo bertitel Kademangan Majapahit

Keberadaan suatu daerah mempunyai cerita masing-masing. Bahkan sebagian diantaranya di luar prediksi kita. Contohnya keberadaan Desa Dermo. Ada yang tahu ada di mana desa tersebut? Yupz, bener banget. Daerah bernama Dermo tersebut masuk wilayah Kecamatan Benjeng. Desa ini ini termasuk salah satu wilayah ibukota Kec. Benjeng yang terbagi menjadi empat yaitu Bulurejo, Munggugianti, Klampok, dan Dermo.
            Berdasarkan pitutur, masyarakat Dermo pada zaman dahulu adalah keturunan dari pasukan Majapahit. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Majapahit – yang ada di Mojokerto lokasinya berbatasan dengan wilayah Gresik. Semua berawal ketika rombongan dari Majapahit hendak menyerang Giri Kedaton namun mengalami kekalahan sehingga terpukul mundur sampai sungai atau kedung sebelah selatan (sekarang daerah tersebut dinamakan Dusun Kedung Sambi). Pasukan majapahit kemudian menyeberang kedung dan sampai di wilayah selatan (sekarang dinamakan Dermo). Desa ini lalu dijadikan markas rombongan Majapahit. Selanjutnya, desa ini menjadi wilayah kademangan (daerah kekuasaan).
            Tanda-tanda bahwa desa ini merupakan bekas kademangan Majapahit diperkuat dengan adanya sebuah candi di sebelah timur telaga desa Dermo. Sayangnya, bekas areal candi bernama Candi Dermo tersebut kini sudah menjadi telaga. Candi berbentuk gapura paduraks (gapura yang bagian atasnya menjadi satu). Selain itu, di desa tersebut konon juga pernah ditemukan situs purbakala antara lain patung Ganesha, lempeng batu segi empat (mirip altar), dan juga pecahan guci/piring.
            Terkait dengan nama Dermo, konon nama tersebut identik dengan nama penguasa pertama wilayah tersebut yang bernama Ki Darmo Gandul (berkuasa sampai 1889). Nama ini juga serupa dengan penyebutan pada zaman penjajahan Belanda dulu. Sebagai desa kecil, sampai-sampai disebut hanya sebesar tumo (kutu kepala). Makanya, dulu daerah tersebut dijuluki OnDERan sak tuMo yang disingkat Dermo.

            Sekian informasi yang dapat kami bagikan terkait keberadaan Desa Dermo yang berjuluk “kademangan Majapahit” di wilayah Gresik. Yang perlu diketahui pula, desa ini dulu tanda batas wilayah kekuasaan Majapahit vs Giri Kedaton. Sekian semoga bermanfaat. (sumber: Sang Gresik Bercerita dengan penyesuaian)

ASAL USUL DESA TEBALO, MANYAR

Sang Pendekar Kebal di Tebalo

            Gresik – kabupaten ini adalah kabupaten yang dipenuhi dan tidak akan lepas dengan kisah-kisah klasik seputar penamaan tempat yang wajib untuk diceritakan. Kolom “Gresik Tempo Doeloe” juga konsisten memberikan pengetahuan seputar asal usul suatu tempat yang ada di kabupaten Gresik. Nah pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi kisah asal usul nama suatu desa yang bernama “Tebalo”.
Tahukah Anda dengan desa tersebut? Wilayah berlabel Tebalo berada di sebelah utara perempatan Bunder (sebelum perum PPS dan Desa Suci). Daerah yang masuk wilayah kecamatan Manyar ini memiliki kisah unik berkaitan dengan nama desa yang disandang. Penasaran? Langsung aja disimak ceritanya……
            Pada zaman dulu, tempat ini hanyalah sebuah tempat kecil yang hanya dihuni beberapa orang. Akan tetapi, penduduk desa ini semuanya adalah seorang pendekar tangguh yang berasal dari suatu tempat untuk mengembara. Dari sekelompok pendekar itu, ada seorang pendekar yang sangat tangguh dan sangat baik hati yang bernama Wak (panggilan untuk Pakde) Karmidah. Suatu ketika, sang pendekar ini menantang pendekar lain yang berasal dari Madura karena sudah menghina nama perguruannya. Akhirnya, Wak Karmidah mengajak bertarung didaerah Gresik kota.
            Saat pertarungan itu, Wak Karmidah terlihat santai akan tetapi ia tidak ingin meremehkan kekuatan musuhnya begitu saja. Sang pendekar Madura pun mengambil kuda-kudan lalu tanpa disadari Wak Karmidah langsung mengunci tubuh pendekar Madura tersebut dengan jurusnya tanpa ampun sehingga pendekar Madura tersebut kehabisan nafas dan meninggal dunia. Akhirnya, oleh teman-teman seperguruannya tempat ini diberi nama desa Kebalo karena penduduknya memiliki tubuh yang tangguh/kebal. Akan tetapi, lama kelamaan desa ini diberi nama Tebalo agar lebih mudah saat ducapkan.
            Kini warga desa Tebalo sangat banyak dengan kisaran mencapai 500-an orang. Mereka semua hidup dengan aman disana, mungkin karena asal usul namanya yang membuat semua orang yang mendengarnya cukup ngeri sehingga tidak ada orang yang berani mengganggu ketentraman warga desa Tebalo.

Nah, sekian sekelumit kisah asal usul pemberian nama “Tebalo”. Jika ada perbedaan informasi harap dimaklumi karena sejarah bisa beragam persepsi. Semoga coretan ini semoga bermanfaat!   (Ifan X AK)

03 March 2016

Asal Usul Desa Mojotengah, Kedamean, Gresik

Pohon mojo ada di tengah

Kali ini, asal usul desa yang kita bahas letaknya lumayan jauh dari wilayah Gresik. Wilayahnya masuk daerah Kec. Menganti. Luasnya juga cukup besar. Dan namanya juga cukup terdengar luas di masyarakat Gresik. “Mojotengah”. Gimana, dari namanya sudah pernah dengarkan?
Atau sudah tau tempatnya dimana? Btw, semua orang juga tau tentang pribahasa kalau tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, kalau kita hanya tau namanya saja, tanpa mengetahui asal usul maka rasanya tidak lengkap. Oke, sekarang kami redaksi AJ akan berbagi cerita tentang legenda Desa Mojotengah.
            Kita awali dengan pembuatan nama desa tersebut. Kisah perjalanan dari seorang penggembala yang sedang melakukan perjalanan dan melewati suatu daerah yang masih tidak berpenghuni. Sang penggembala sudah melakukan perjalanan cukup jauh, sehingga membuatnya kelelahan. Dengan segera dia berusaha mencari tempat beristirahat. Tapi dia belum menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Sang penggembala menemukan sebuah pohon besar dan rindang. Tetapi posisinya berada tepat di tengah2 daerah tersebut. Pohon itu adalah pohon buah mojo.
            Saat sang penggembala sedang beristirahat dibawah pohon tersebut, tiba2 ada seorang petani yang lewat dan berniat untuk beristirahat juga di bawah pohon mojo tersebut. Kemudian terjadilah perbincangan antara sang penggembala dan petani. Kemudian sang penggembala menanyakan nama daerah tanpa penghuni itu kepada petani. Karena memang daerah tersebut tidak berpenghuni, pasti tidak ada namanya. Sang penggembala pun  heran mengapa tempat seluas itu tidak memiliki nama. Tiba2 terlintas dibenaknya sebuah nama “Mojotengah”. Hal tersebut didasari karena tempatnya beristirahat tadi. Yaitu disebuah pohon mojo yang letaknya tepat ditengah2 wilayah tersebut.
            Sampai sekarang dikenalah wilayah tersebut dengan nama mojotengah. Oke, berikut sudah penulis sampaikan tentang legenda nama desa mojotengah. Salam jumpa lagi para sahabat AJ. Sampai jumpa di edisi selanjutnya J Citra Fandeean Saputri