Showing posts with label Galeri Gresik. Show all posts
Showing posts with label Galeri Gresik. Show all posts

10 December 2016

PT Petrokimia Gresik Sabet Asean Risk Award 2016

   
 
        Gresik lagi-lagi menyabet prestasi. Kali ini sumbangsih perhargaan diberikan oleh PT Petrokimia Gresik (PG). Produsen pupuk 'plat merah' itu menerima penghargaan di ajang Asean Risk Awards yang berlangsung di Hotel Sofitel, Nusa Bali, Kamis (8/12/2016) dalam kategori Risk Advocate.
Event internasional ini diselenggarakan dalam rangka memberikan penghargaan terkait Manajemen Risiko dengan skala internasional kepada perusahaan-perusahaan terpilih di negara-negara ASEAN. Hal ini terkait penerapan manajemen resiko dengan berbagai ukuran bisnis, jenis industri maupun negara asal yang memiliki semangat dalam meningkatkan model pengelolahan risiko yang terbaik.
Penghargaan ini diinisiasi oleh CRMS Indonesia dengan peserta berbagai perusahaan-perusahaan di negara-negara Asean. Dalam ajang ASEAN Risk Award 2016 ini dihadiri oleh 23 perusahaan dan organisasi di seluruh Asia Tenggara.
Dalam Asean Risk Awards 2016, Sebanyak 36 perusahaan terpilih ikut menjadi nominasi dan telah melalui proses seleksi dan penjurian yang dilakukan secara independen. Tim panelis juri merupakan profesional yang memiliki latar belakang di bidang manajemen risiko, auditor, dan bisnis dan hubungan internasional. Mereka terdiri dari Alan Simmons, CERG (United Kingdom), Colin Adams, CERG (Australia). Gordon Song (Singapore), Ly Xuan Thu (Vietnam), Vincent Guerard, PMP, PMI-RMP (Canada), Tim Corbett (USA), Marc Schaedeli (Switzerland), dan Leo J Susilo (Indonesia).
Akhirnya, terdapat 8 pemenang untuk masing-masing kategori pada penghargaan yang pertama kali digelar ini, berikut diantaranya:
1.     Asean Risk Champion = ABM Investama (Indonesia)
2.     Asean GRC Award = Government Service Insurance System (GSIS) asal Filipina
3.     Asean Risk Advocate = Petrokimia Gresik (Indonesia)
4.     Asean Risk Innovation = Indonesia Power (Indonesia)
5.     Asean Risk Technology = Pertamina EP (Indonesia)
6.     Public Initiative = BPJS Ketenagakerjaan Indonesia
7.     Public Risk = BPJS Kesehatan (Indonesia)
8.     Asean Risk Educator = Accounting Research Institute/ARI Universiti Teknologi MARA (Malaysia).



Diolah dari berbagai sumber

09 December 2016

Gresik Raih Penghargaan PUPR 2016

      

       Alhamdulillah, Kabupaten Gresik Berprestasi lagi. Kali ini berupa penghargaan PUPR 2016 yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), di Kantor Kementerian PUPR, Kamis (8/12). Penghargaan diberikan kepada tiga pemerintah provinsi dan tujuh pemerintah kabupaten/kota.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada instansi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, yang dinilai berprestasi dalam penyelenggaraan pembangunan infrastruktur bidang PUPR. Acara yang sebelumnya dikenal dengan Penilaian Kinerja Pemerintah Daerah Bidang Pekerjaan Umum (PKPD-PU) tersebut digelar dengan tujuan untuk mendorong pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pembangunan infrastruktur bidang PUPR, dengan mengedepankan keterpaduan antara berbagai sektor dan pemangku kepentingan. Mulai dari tahap perencanaan, pemograman, pembiayaan, implementasi, operasi dan pemeliharaan hingga monitoring dan evaluasi.
Selain Gresik (sebagai pemenang wilayah tengah), Pemenang penghargaan dari Kategori Provinsi adalah Provinsi Sumatera Barat(Pemenang Wilayah Barat), Provinsi Jawa Timur(Pemenang Wilayah Tengah), Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemenang Wilayah Timur). Untuk pemenang Kategori Kabupaten terdiri dari Kabupaten Tanah Datar(Pemenang Wilayah Barat) dan Kabupaten Tabanan(Pemenang Wilayah Timur). Sementara untuk pemenang Kategori Kota adalah Kota Banda Aceh (Pemenang Wilayah Barat), Kota Malang (Pemenang Wilayah Tengah) dan Kota Mataram (Pemenang Wilayah Timur).
Beberapa program unggulan Gresik yang menjadikannya mendapat penghargaan adalah pembangunan bidang kebinamargaan, sumber daya air, bangunan gedung, penataan pemukiman, tata ruang, penanganan limbah serta program kota tanpa kumuh (Kotaku) yang baru beberapa waktu dilaunching.
Semoga Gresik bisa terus lebih baik.


27 November 2016

Bungah - Gresik Banjir Lagi (Senin, 28 November 2016)

            Banjir (lagi-lagi) merendam wilayah Gresik bagian selatan tepatnya di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Bungah. Banjir yang juga merendam area Jalan utama (arah Sembayat ke Bungah ) ini menyebabkan kemacetan parah tadi pagi, Senin 28 November 2016.
            Warga Desa/Kecamatan Bungah mengaku sudah biasa dengan langganan banjir Sungai Bengawan Solo setiap tahun tapi warga hanya menyesalkan sikap pemerintah yang seakan-akan membiarkan bencana banjir datang setiap tahun.
“Sudah biasa kebanjiran. Rumah sudah dipondasi tinggi dan alat elektronik sudah dipindah ke bagian atas. Anehnya, kenapa pemerintah daerah sampai pusat tidak ada yang perhatian dengan bencana alam tahunan ini,” kata Heru, pemuda Desa Bungah.
Ketinggian air bah yang merendam beberapa wilayah di Gresik, Jawa Timur, semakin meningkat pada Senin (28/11/2016) pagi.
Sehari sebelumnya, Minggu (27/11/2016), ketinggian air luapan Bengawan Solo hanya berkisar 20 hingga 30 sentimeter, hari ini naik menjadi 40 hingga 60 sentimeter.
"Mulai malam kemarin, air yang semula hanya menggenangi jalan desa akhirnya mulai masuk rumah," tutur Achmad Rifqi (46), warga Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Gresik, Senin (28/11/2016).
Semoga banjir ini cepat surut. Berikut ini beberapa foto yang saya dapatkan dari grup Gresik Sumpek (terima kasih, kawan) dan google







DPRD Gresik Bersiap Punya "Rumah Kerja Baru"


            Para wakil rakyat di Kab. Gresik bersiap punya “rumah baru” untuk bekerja. Pasalnya, Proyek pembangunan gedung DPRD Gresik dipastikan bakal dimulai awal 2017. Gedung baru untuk anggota dewan menjalankan tugas dan fungsinya ini kabarnya bakal dibangun dua lantai di atas lahan seluas dua hektar di Jl Dr Wahidin.
            Mengapa yang lama tidak dipugar? Kabar menyebutkan bahwa Gedung DPRD sekarang ini masuk Cagar Budaya, sehingga tidak bisa dipugar. Dengan alasan itulah, pihak DPRD mengajukan pembangunan gedung baru ke Pemkab Gresik, yang kemudian mendapat persetujuan.
            Proyek yang didanai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tersebut dianggarkan dengan sistem multiyears selama dua tahun. Pada tahun pertama, rencananya akan dikucurkan sebanyak 60 persen (±50 miliar). Kemudian disusul 40 persen sisanya pada APBD tahun 2018 mendatang.
            "Tahun 2017 anggaran yang diajukan untuk pembangunan gedung dewan sebesar Rp 50 miliar. Sisanya diajukan pada tahun anggaran berikutnya," ungkap Bambang Isdianto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gresik.
            Beberapa faktor yang menjadi alasan pembangunan gedung baru yakni gedung yang sekarang ini mulai tidak memadai. Seperti area parkir yang sempit sehingga banyak mobil diparkir di pinggir-pinggir jalan yang berakibat pada kemacetan lalu lintas di seputaran alun-alun.
Kemudian, ruang-ruang fraksi juga sangat kecil hingga cuma bisa memuat meja dan kursi saja. Ruang-ruang sidang pun dirasa tidak memadai sampai harus membobol dua ruang menjadi satu.
“Dan yang tak kalah penting, ruang dokumen hanya satu. Semua numpuk di sana, sampai setiap kali mencari dokumen tertentu butuh waktu sampai dua hari untuk menemukannya,” ungkap Wakil Ketua DPRD Gresik, Nur Qolib.
Ketika pembangunan gedung baru ini rampung, gedung dewan di Jl Wachid Hasyim atau di sebelah utara alun-alun Gresik yang selama ini dipakai, akan digunakan untuk museum budaya dan pusat kesenian Gresik.

20 November 2016

Asal Usul Desa Iker-Iker, Cerme

Si Macan yang Suka Buat Iker-iker

Desa ini sangat dekat dengan pusat kecamatan Cerme. Desa yang mempunyai nama sederhana ini biasa disebut Desa Iker-Iker. Daerah yang dilalui jalur utama Cerme ini berbatasan dengan Desa Cerme Kidul, Betiting, Boboh, dan Morowudi. Berikut cerita penamaan desa tersebut.
Desa ini memiliki 4 dusun, yaitu Iker-Iker, Jurit, Geger Wetan (Timur), Geger Kulon (Barat). Salah satu dusun dari desa ini adalah Jurit tempat berdirinya sekolah ternama yakni SMKN 1 Cerme.

Iker-iker berasal dari Eker-eker yang berarti kekacauan, atau berantakan sedangkan Geger sendiri mempunyai arti perkelahian. Geger dibedakan menjadi 2 yaitu Geger Kulon dan Wetan. Kalau Jurit? Tunggu dulu ada waktunya. Lain episode akan diceritakan....
Pada zaman dahulu kala, ada penjajah yang mau menjajah desa Iker Iker Geger. Sebelum para penjajah tiba di desa itu. Warga desa sudah melakukan antisipasi jika para penjajah datang. Mereka mengumpulkan prajurit-prajurit yang akan menyerang penjajah. Para prajurit itu berkumpul di suatu alas yang sekarang menjadi Dusun Jurit.
Saat para prajurit sedang melakukan aktivitas persiapan untuk melawan penjajah, datanglah seorang yang katanya sih sakti bin hebat. Tapi dia selalu membuat ulah. Dia selalu mengganggu warga yang tinggal di dusun yang sekarang dinamakan dusun Geger. Dia selalu membuat gara-gara di situ. Dia mendapat julukan dari warga sekitar Si Macan. Warga kesal akan tingkah laku Si Macan tapi warga takut untuk melawan. Si Macan selalu memberantakkan, membuat kekacauan yang sekarang memiliki nama dusun Iker-Iker yang berawal dari “eker-eker” (berantakan).
Cukup lama para warga memendam rasa ingin untuk melawan Si Macan. Akhirnya tercapai juga keinginan itu, mereka bersama-sama melawan Si Macan dan Si Macan pun terkalahkan. Jasad Si Macan dimakamkan di bawah jembatan yang sekarang nama jembatannya yaitu “Jembatan Macan Mati” yaitu tempat Si Macan mati. Yang juga menjadi perbatasan antara desa Iker-Iker Geger dengan desa Cerme Kidul.
Begitulah sejarah singkat penamaan desa Iker-Iker Geger. Semoga bermanfaat.

Asal Usul Desa Guranganyar, Cerme

Sego Kurang di Desa Guranganyar

Ada sebuah desa dengan nama yang sederhana namun berkesan. Namanya Desa GURANGANYAR. Desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Cerme. Desa ini berbatasan dengan Desa Morowudi, Dampaan, Dungus, Betiting, dan Ngabetan.

Pada zaman dahulu, ada sebuah pemukiman yang berpenduduk  banyak, hidup rukun, dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Pada suatu hari datang sebuah bencana yang menghancurkan desa tersebut. Keributan terdengar di mana-mana, semua orang berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing. Tapi apa hendak dikata semua terjadi begitu tiba-tiba dan terlalu cepat. Guntur (nama bencana loh bukan nama orang/ semacam makanan) datang dan menghancurkan semua yang ada. Pepohonan yang ada tumbang semua. Rumah, hewan, bahkan manusia tergulung oleh tanah dan angin (kata narasumbernya sih gitu, mirip Tsunami kecil lah).
Dari peristiwa tersebut yang berhasil selamat  hanya 4 orang. Mereka akhirnya pergi dan mencari tempat tinggal lain. Mereka tinggal di sebuah desa yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya. Setelah mereka menikah mereka kembali ke desa tersebut dan menjadi sebuah keluarga. Penduduknya pun bertambah dan menjadikan desa ini ramai. Tapi hanya ada satu warung yang tersedia desa ini dahulunya dilanda bencana yang cukup dahsyat. Setiap ada orang yang beli makanan pasti nasinya kurang. Bahkan, meskipun porsi masakan (nasi) sudah ditambah tetap saja kekurangan nasi (aneh juga ya? Siapa yang makan? Jangan-jangan!).
Karena hal tersebut daerah yang baru ditempati itu dinamakan desa GURANG dari kata sego kurang. Nah sudah tau kan???ternyata begitu berat kehidupan orang-orang dahulu. Meskipun cara penyampaiannya gak terlalu menarik dan terkesan mbulet tapi moga teman-teman dapat memaklumi karena cerita ini dari mulut ke mulut jadi agak semrawut.
Penyebutan GurangAnyar sendiri berkaitan dengan adanya beberapa dusun berlabel Gurang di desa tersebut misalnya Dusun Gurang Wetan dan Gurangkulon. 

Asal Usul Desa Ngepung, Kedamean


Namanya Desa Ngepung. Desa ini berada di wilayah Kecamatan Kedamean dan berada di jalan utama Gresik – Krian. Nama desa yang berbatasan dengan Desa Karangandong, Mojosarirejo, dan Wedoroanom (Driyorejo) ini mempunyai kisah yang menarik.
Cerita ini berawal dengan gugur Syahidnya pembela agama Islam bernama Sahid Fisabilillah. Beliau ditugaskan sang Sunan melakukan pembinaan syariat Islam di daerah tersebut.
Kedatangan para Santri disambut dengan suka cita oleh penduduk kampung. Pada pagi hari ketika para Santri memberikan pelajaran Syariat Islam kepada para warga selepas sholat subuh. Pasukan Majapahit datang dalam jumlah besar. Pasukan tersebut langsung mengepung desa dalam barisan yang rapat. Kepanikan melanda seluruh kampung. Wanita dan anak-anak disembunyikan. Kaum laki-laki segera bergabung dengan santri Giri.
Salah seorang santri memberikan pengarahan tentang strategi yang akan digunakan, maka para santri dan penduduk segera membentuk barisan pertahanan di balik pohon dan semak-semak yang mengintari desa. Melalui satu komando, secara serentak pasukan berkuda Majapahit menderap maju dalam laju yang kencang dan pedang terhunus. Strategi Santri Giri nampaknya berhasil. Jerit kesakitan dan kematian melengking dari mulut ke mulut pasukan Majapahit. Melihat situasi tersebut pimpinan pasukan berkuda memerintahkan segera mundur. Sorak kemenangan beserta takbir berkumandang.

Namun penduduk desa itu pun sadar bahwa pasukan Majapahit belum sepenuhnya dapat mereka kalahkan. Ternyata benar dugaan mereka, tiba-tiba anak panah datang berseliweran menembus apa saja yang berada di depannya. Beberapa penduduk terkena anak panah. Kini Santri Giri menghadapi pasukan Majapahit yang jumlahnya 30 kali lipat lebih besar tanpa bantuan penduduk desa. Sejenak muncul kecemasan di wajah Santri Giri. Namun kecemasan tersebut hilang dan berganti keberanian manakala salah seorang dari mereka meneriakkan takbir. Disongsongnya pasukan majapahit yang datang mengepung  dari seluruh arah. Jumlah yang tak berimbang tersebut menyebabkan Santri Giri dalam sekejap telah gugur sebagai Syahid. Nach dengan peristiwa tersebut kemudian desa itu kini dinamai DESA NGEPUNG  (terkepung gitu)

Asal Usul Desa Morowudi, Cerme


Morowudi terletak berdekatan dengan  pusat kecamatan Cerme (±3 km arah selatan). Desa ini cukup ramai karena berada di jalan utama Cerme. Desa ini berbatasan dengan Desa Iker-Iker, Boboh, Putar Lor, Sukoanyar, dan Guranganyar.
Penamaan desa ini berkaitan dengan era sebelum Indonesia merdeka. Ketika itu, Belanda pada suatu daerah yang belum banyak penduduknya (sekitar 10-15 rumah doang). Dengan kedatangan penjajah ke daerah ini, para penduduk merasa ketakutan dan akhirnya mereka semua mengungsi ke daerah barat yaitu Mantup, Lamongan, Metatu, dan  sekitarnya. 

Untuk merebut daerah ini penjajah menjadikan Moro sebagai markas besar mereka dan  sekarang markas itu menjadi sekolah “Muhammadiyah“. Untuk melancarkan aksinya penjajah menjadikan salah satu penduduk daerah ini untuk menjadi lurah dari Belanda. Tapi lurah Belanda (Pak Tasmo) tak sepenuhnya berpihak pada Kompeni, tapi juga berpihak pada daerah ini. Apa yang  direncanakan pasti Pak Tasmo memberi tahu rencana tersebut kepada para penduduk dan  tentara yang membantu penduduk daerah ini untuk mengusir Belanda.
NICA menjajah daerah ini mulai dari bagian Timur ke Barat. Karena itu, penjajah dikepung oleh sekelompok tentara dan  pasukan para ulama “Qisbulwaton” dari daerah Mojokerto, Pasuruan ,dan  sekitarnya. (yang sekarang daerah itu bernama Dusun Ngepung). Melihat kalo mereka  telah dikepung, penjajah tidak melanjutkan ke daerah bagian Barat melainkan kembali lagi ke daerah bagian Timur dan  al hasil di daerah bagian Timur juga sudah di kepung, akhirnya penjajah tidak bisa berkutik lagi alias berdiam diri di daerah tersebut. (sekarang disebut Dusun Tandegan).
Kemudian penjajah berpikir atau bersiasat bagaimana caranva  untuk keluar dari daerah ini dan  penjajah menemukan sebuah daerah yang sangat terpencil, akhirnya mereka melarikan diri dengan lari terbirit-birit. (sekarang disebut Dusun Ngebret )
            Jadi, kata “MORO” itu berasal dari kedatangan penjajah, sedangkan kata “ WUDI “ itu diartikan Belanda mencari kedudukan. Morowudi terdiri atas 5 Dusun diantaranya yaitu Morowudi Wetan, Morowudi kulon, Ngepung, Tandegan,  dan Ngebret.

Asal Usul Desa Kambingan, Cerme

          

           Desa ini bernama Desa Kambingan. Mendengar namanya, pasti sebagian dari kita senyum aneh. Padahal, desa yang berada di wilayah kecamatan Cerme dan berbatasan dengan Desa Semampir, Dungus, Wedani, dan Ngabetan ini mempunyai cerita tersendiri.
            Awal mulanya, Desa ini ditempati oleh seorang yang bernama Mbah Singa Barong (seseorang yang konon sakti). Sebenarnya nama desa tersebut adalah Desa Matamu. Suatu hari, ada seorang pemuda yang bertanya kepada Mbah Singa barong, “Maap Mbah, kalo boleh saya tahu ini desa apa?” “Desa ini namanya gak sopan nak, apa kamu masih ingin tau?” Jawab mbah Singa Barong. Pemuda itupun berkata “Ya Mbah gak papa”. “Baiklah, desa ini namanya Desa Matamu”. Jawaban Mbah Singa Barong. Pemuda itupun seketika marah. Karena dia merasa telah dihina oleh Mbah Singa Barong. Akhirnya mereka berdua bertengkar, kejadian itupun selalu terjadi setiap ada orang yang bertanya apa nama desa tersebut.
            Di sebelah barat desa ini ada sebuah daerah terkenal dengan pendekarnya yang sakti, sombong & tak tertandingi. Pendekar itu sering menantang siapapun (edan-edanan), yang kemudian daerah tersebut kita kenal dengan nama Desa Wedani. Mbah Singa Barong yang mendengar berita tersebut, berinisiatif untuk menantangnya bertarung. Mereka sepakat siapa yang menang maka akan mendapatkan daerah kekuasaan (perbatasan) yang bernama Keramat. Setelah bertarung, mbah Singa Barong jadi pemenang.
Di daerah Keramat, hidup seorang janda dan putrinya yang cantik jelita. Setiap pagi janda itu pergi ke pasar. Suatu hari saat janda itu pergi ke pasar, sang anak bermaksud untuk menyusul ibunya. Namun sebelun dia sampai di tempat tujuan, dia dirampok & akhirnya dia dibunuh. Namun perampok itu tidak mau menguburnya melainkan ditelantarkan. Warga Desa Matamu yang melihat sosok mayat yang tergeletak ,berniat untuk mengubur. Sebelum dikubur mayat putri cantik tersebut di pajang di sawah panjer setinggi pohon bambu. Kejadian tersebut diketahui oleh Mbah Singa Barong, dia mengajak seluruh keluarga besarnya berbondong-bondong menyaksikan kejadian tersebut seperti “ Wedos kemriak “.

Akhirnya desa yang semula bernama Desa Matamu diganti menjadi  Desa wedusan  (mengambil istilah Wedos kemriak) yang sekarang kita kenal dengan nama Desa Kambingan.

Asal Usul Desa Sumengko, Duduksampeyan


Sumengko, desa yang terletak di kecamatan Duduksampeyan ini bisa dibilang desa yang cukup luas dan makmur. Desa yang berjarak 1 kilometer dari perempatan Duduksampeyan ini memiliki banyak cerita dan legenda tentang asal usul berdirinya. Seperti yang dikatakan oleh para sesepuh desa Sumengko, yang pada zaman dahulu ada salah seorang yang ahli meditasi di tempat yang angker keramat (pepunden) oleh masyarakat sumengko sering berjumpa dengan seorang perempuan yang mengaku orang pertama yang membuka desa sumengko, orang pertama tersebut bernama MULYO REJO NING SRI dari nama orang pertama tersebut itulah nama aslinya desa sumengko yaitu DESA MULYOREJO .
Adapun cerita berbeda menjadi sumengko yang sekarang adalah karena kehidupan yang menyedihkan dirasakan oleh masyarakat desa sumengko tapi terjadi tahun berapa pun itu tidak dijelaskan yaitu: Sumpek dan Nyengko dirasakan oleh perempuan itu yang menurut bahasa Indonesia menyedihkan dan mencekam. Akhirnya, dari dua kata tersebut diambil dari suku kata sum dan nyengko maka menjadi kata SUMENGKO.
Ada juga yang mengatakan bahwa asal usul desa Sumengko yakni pada awalnya di sebuah wilayah yang tidak terlalu luas, yang dihuni oleh beberapa orang saja dan di sekitar itu terdapat banyak tanaman tetapi kebanyakan tanaman tersebut pohonnya yang merambat dan terdapat buah yang bulat dan dalamnya berwarna merah. Suatu hari wilayah tersebut ditebangi tetapi satu tanaman yang tidak ditebang. Kemudian buah itu dinamakan semangka karena buahnya yang bulat dan rasanya sangat segar. Beberapa hari kemudian banyak orang yang berdatangan ke wilayah tersebut untuk melangsungkan hidupnya. Lama kelamaan wilayah tersebut sangat ramai dan banyak penghuninya . Dan wilayah tersebut belum ada namanya ada satu orang yang berpendapat wilayah tersebut dinamakan “SUMENGKO”, karena banyak tanaman semangka.
            Tambahan informasi, di desa ini ada dua makam keramat yakni Mbah Sarkowi (prajurit dari kerajaan Giri era Sunan Prapen) dan Raden Qosim (versi 1: ulama dari Tuban, versi 2: dari Drajat).

Asal Usul Desa Balongmojo, Benjeng


Desa ini bernama Balongmojo. Desa yang masuk wilayah kec. Benjeng ini termasuk satu dari desa di Benjeng yang cukup besar, terutama jika dilihat dari jumlah dusun di dalamnya.
Balongmojo berasal dari kata “balong” yang berarti kolam, dan “mojo” adalah nama pohon yang buahnya berasa pahit. Di tempat ini dahulu kala terdapat banyak pohon mojo disekitar balong atau kolam. Sehingga wilayah ini dikenal dengan nama Desa Balongmojo. Desa ini disebut sebagai tempat penampungan air, sampai sekarang di Desa Balongmojo tidak pernah kekurangan air. Bahkan menjadi tempat jujugan desa tetangga untuk ngangsu (mengambil air) saat musim kemarau, karena sumber air di desa masing-masing mengering.
Di desa tersebut ada wilayah yang disebut Dusun Balongmojo Krajan. Itulah nama dusun yang saya cuplik karena itu adalah dusun saya. Nama krajan dimungkinkan memiliki kesamaan dengan kata kerajaan. Krajan umumnya adalah sebagai pusat pemerintahan. Walaupun belum pernah ditemukan benda purbakala di desa ini, yang menunjukkan dahulu sebagai kerajaan.
Yang unik, sebanyak 5 dusun memiliki nama Balongmojo, yaitu Balongmojo Krajan, Balongmojo Sawahan dan Balongmojo Kulon. Sedangkan dua dusun lainnya Balongmojo Kidul dan Balongmojo kepuh di wilayah Desa Balongtunjung. Dusun Balongmojo Krajan, memiliki tempat keramat di telaga sebelah SD Negeri Balongmojo. Dahulu kala menjadi tempat keramat bagi warga dan dikenal dengan Tlogo Jati.
Pada masa pemerintahan lurah Maeran, rumah penduduk sudah cukup banyak tetapi lokasinya terpencar. Kemudian lurah Maeran menata rumah agar saling berdekatan dan berkelompok. Setelah pemukiman sudah berkelompok, jalan kampung sudah baik, kebijakan berikutnya pembuatan pagar rumah. Bagi warga yang mendapat arisan kampung (sepen) diharuskan membuat pagar depan rumah, tradisi ini sampai sekarang masih dijaga dengan baik. Hasilnya bisa kita lihat dan bandingkan dengan desa-desa lainnya, desa Balongmojo penataan kampung lebih rapi.

Desa Balongmojo dalam berbagai kesempatan, termasuk salah satu desa terbaik di kawasan Benjeng. Sering mewakili kecamatan dalam berbagai lomba di tingkat Kabupaten Gresik.

Asal Usul Dusun Munggusoyi, Munggugebang, Benjeng


Kali ini kita akan membahas tentang Dusun yang ada di kec. Benjeng. Munggusoyi namanya. Dusun ini merupakan bagian dari desa Munggugebang. Selain dusun ini, di Munggugebang juga terdapat dua dusun lain yakni Dusun Munggugebang dan Ngemplak. Lokasinya berbatasan dengan Desa Banter, Klampok, dan Sirnoboyo.
Untuk menuju lokasi dusun ini cukuplah jauh. Kita harus masuk lewat beberapa dusun yang lain semisal Dusun Kalisari
Dahulu, banyak sekali brandal yang hidup di sekitar daerah ini. Pada saat itu warga sangatlah risih dengan perlakuan penjahat desa tersebut. Karena jumlah berandal-berandal tersebut sangatlah banyak, warga kebingungan untuk menangani mereka.

Suatu hari, ada seorang pengembara dari luar yang menyarankan agar para brandal tersebut dibawa ke dusun yang banyak sesepuhnya (yang dimaksud adalah dusun Munggusoyi).
Warga pun setuju dengan saran orang asing tersebut, dan dengan tekat yang kuat warga sekitar sama-sama berkumpul guna menangkap segelintir perusuh desa itu. Setelah dirasa misinya berhasil, penjahat tersebut kemudian dibawa dan dihadapkan oleh beberapa sesepuh desa, kata orang-orang dulu sih brandal itu diajak untuk berbuat baik terhadap sesama.
Pada saat itu juga masyarakat desa dikumpulkan untuk diajak “monggo sae” (bahasa Jawa) yang artinya sama-sama berbuat baik. Lama kelamaan para sesepuh tersebut ada yang mengembara meninggalkan desa dan ada juga yang meninggal, sementara yang meninggal dimakamkan oleh warga sekitar di dekat  telaga  dan ada juga yang ditengah-tengah sawah. Mungkin hal tersebut bermaksud agar  warga sekitar selalu menghargai dan mengingat keberadaan sesepuh yang pernah singgah di desa ini.
Singkat cerita, pada saat itu kondisi desa belum menyandang nama apapun, akhirnya kata “monggo Sae” tersebut dijadikan sebagai nama sementara untuk desa itu. Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang singgah ke desa ini dan memanggil dengan sebutan “munggusoyi”, jadi hingga sekarang desa ini tetap dengan nama “munggusoyi”. 

Asal Usul Desa Bunderan, Sidayu

Desa untuk Persatuan

Desa Bunderan (beda sama Bunder lho) merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Sidayu. Bunderan merupakan desa yang terdiri dari 3 Pedukuhan/dusun, yaitu dusun Buyungan, dusun Pelawean, dan dusun Ngablak.  Tiga nama dusun tersebut dilatar belakangi oleh Pekerjaan/aktivitas yang berbeda-beda.
Yang pertama Dusun Buyungan. Dusun ini merupakan pusat pembuatan kerajianan dari tanah liat (lempong). Dulu, hampir semua penduduk di dusun ini berprofesi menjadi pengrajin tanah liat. Nah,  jika mau mengambil air di telaga rambit (satu-satunya sumber air saat itu) mereka menggunakan Buyung (tempat/alat untuk mengambil air yang terbuat dari tanah liat). Dari kata ‘buyung’ tersebut akhirnya dusun ini terkenal dengan nama buyungan. Namun tidak hanya memproduksi buyung saja, dusun ini juga memproduksi cobek, ulek-ulek, genuk (untuk menyimpan persediaan air), padasan (tempat air wudhu), jambangan (bak mandi), kemaron (wadah cuci baju/piring), dan lain-lain. Sayangnya, kini pengrajin tahan liat di dusun ini kian habis, karena faktor regenerasi.
Kedua, dusun Pelawean yang berasal dari kata ‘Lawe’ berarti benang. Jadi dulunya, hampir semua warga dusun ini menghasilkan barang yang berbahan dasar benang seperti, sarung tenun, kain, hingga batik. Namun karena alasan yang sama seperti dusun buyungan, kini pengrajin-pengerajin tersebut sudah punah, dan tidak tersisa satupun. Sekarang dusun ini lebih dikenal dengan pembuatan kerupuk ikan. Kerupuk ikannya gurih, dijamin ketagihan!
Dusun yang terakhir yakni dusun Ngablak. Kata Ngablak berasal dari kata “Ngeblak” yang memiliki arti yang kurang baik, yaitu perempuan penghibur/tuna susila. Jadi dulunya, dusun ini jadi tempat hiburan-hiburan gitu. Tapi tenang sobat, ketika Islam mulai masuk ke Gresik, terutama di Sidayu, dusun yang awalnya kagak bener ini berangsur-angsur membaik, dan para tuna susila berpindah ke tempat lain. Kini, dusun ini terkenal dengan pembuatan pande besi yang memproduksi alat-alat pertanian.

Nah, kurang lebih abad ke-11, kepala dari 3 dusun tersebut melakukan perundingan untuk bersatu dan membentuk sebuah desa.. dan nama BUNDERAN akhirnya dipilih, yang bermakna mbunder atau satu kesatuan yang bulat. Hal tersebut selaras dengan tujuan 3 dusun tersebut di awal perundingan.

Kedai Kecil dengan Nama Unik di Gresik

         Tidak tahu mengapa virus nama-nama aneh bertebaran menghiasi lokasi/rumah makan/sejenisnya di negeri ini. Mencari sensasi bisa jadi alasan utamanya. Sebut saja Mie Setan, Nasi Goreng Mercon, Mie Ruwet, dan sebagainya yang sudah dikenal publik Gresik (tiga nama yang disebutkan akan dibahas pada kolom yang lain). Nah, kali ini Tim AJ sudah menilisik beberapa rumah makan kecil/penjual keliling di daerah Gresik yang juga punya keunikan tersendiri. Berikut daftarnya:

Mbah Gogel Sayur

                Pengen cari sayur yang segar dan murah? nggak riwuh kayak pasar. Hmm.. Datang aja ke Mbah Gogel Sayur di Menganti, Jalan Raya Desa Boteng tepatnya di depan Gapura Desa Boteng (jalan masuk ke SMA Negeri 1 Menganti). Toko ini menjual berbagai macam sayur-mayur yang terpercaya kualitas sayurnya. Bu Wiwin pemilik toko sayur ini. Masih satu bulan berdiri, tapi toko sayur sudah mempunyai banyak pelanggan. Keunikan dari Mbah Goglesayur adalah nama toko tersebut. mungkin nama tersebut diambil dari aplikasi Google yang berfungsi untuk mencari informasi lewat internet,sedangkan Mbah Gogel Sayur maksudnya untuk mencari berbagai macam sayur-mayur. Jika ingin mengunjungi toko tersebut datanglah pukul 06.00 sampai 15.00 itu pun jika persediaan sayur masih ada.

Pentol  Goyang Lidah

Mendengar kata pentol pasti kalian udah enggak asingkan, namanya PENTOL GOYANG LIDAH.  Yang rumahnya di daerah GKB, buruan mampir ke kedai pak poco, pak poco mulai berjualan pentol goyang lidah ini baru satu bulan dan kedai yang berada di GKB ini merupakan cabang dari Jalan Cempaka Surabaya. Kalian tau nggak kenapa kok dinamai Pentol Goyang Lidah? Menurut informasi yang saya dapat karena rasa dari pentol ini lain dari pada yang lain, jadi apa kalian tertarik? Kalau iya silahkan mampir ke kedai pak poco di Jl Kalimantan GKB.

Mie Ayam Pelangi

        Ketika kita lapar, pasti tahukan mau pergi kemana? Nah, di Menganti tepatnya di jalan Domas Indah no. 6 terdapat warung sederhana milik mbak fitri. Warung yang didirikan sekitar awal bulan Oktober 2015 masih baru ,tapi sudah terkenal memiliki menu unik yaitu “ MIE AYAM PELANGI “. Sebenarnya teknik penyajiannya sama dengan mie ayam biasanya. Namun yang membedakan adalah warna mie yaitu merah, kuning, hijau seperti pelangikan. Mungkin dari warna mie tadi, menu ini dinamakan MIE AYAM PELANGI. Jika anda ingin mengunjungi warung ini anda bisa datang pukul 08.00 sampai 20.00. Tapi lebih asyik waktu sore apalagi sama teman.

Es Mie Telor

Outlet minuman yang berlokasi di DS. Cerme lor no. 183 Rt. 02 Rw. 03 ( sebelah GEMUMADESU ) mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian. Penjualnya bernama pak Busron Latif orang asal Tuban yang sekarang menetap di lokasi tersebut. Sedangkan pemilik outlet es mie telor itu sendiri adalah pak Tamari (orang Benowo). Peminat dan penikmat es mie telor berasal dari anak sekolah dan umum. Keunikan dari es mie telor ini adalah bentuk dan namanya. Tersedia beberapa varian rasa diantaranya leci, melon, strawberry, mangga, anggur, vanila, dll.Outlet es mie telor di daerah Cerme ini sudah buka dari tiga bulan yang lalu.  Jika berminat ingin membelinya, outlet ini buka mulai pukul 08.30 -  21.00.

Warung Makan Rujak Es Cream

Warung unik ini berada di Jl. Raya Bringkang – Menganti. Penjualnya bernama pak Ali. Disini bukan hanya berjualan es krim namun ada banyak menu makanan dan minuman. Makanannya ada gado-gado, rujak cingur, rujak manis, lontong balap, longtong kupang, dan lontong lodeh. Sedangkan minumannya ada aneka macam jus buah dan es, Tapi yang membuat tertarik itu es krimnya karena mempunyai nama yang unik. Ada es krim apolo (apukat loh), es krim kejam (kecampur jambu), es krim rujak (diatasnya rujak dikasih es krim), es krim asoka (astor suka-suka), es krim kelamud (kecampur kelapa muda), es krim kacau (kacampur cao), es krim rasen-gan (rasa duren juragan), dll. Beliau mendapatkan ide membuat nama-nama singkatan yang unik itu agar bisa menarik pembeli.  Pak Ali berjualan sejak tahun 2011. Tiap hari kadang bisa menghabiskan 1 boks tempat es krim. Hebatnya, Pak Ali membuat blog bernama eskrimsukasuka.blogspot.com

Tahu Kebalik

Tahu Kebalik? Kalian tau gak makanan yang satu ini?. Makanan itu ada di kedai Bpk Mahruz dan Ibu Zinatul Aris tempatnya di Jalan Raya Kutil Gempol Kurung Menganti Gresik. Beliau mendirikan kedai ini sejak tahun 2014. Tahu kebalik adalah makanan khas Banyuwangi. Alasan beliau memberi nama tahu kebalik, karena sebagian besar para penjual tahu menjual tahunya dengan cara direbus tetapi beliau mendapatkan ide menjual tahunya dengan cara digoreng. Maka dari itu namanya menjadi tahu kebalik. Isi dari tahu kebalik adalah adonan tepung yang dicampur daging giling dan lapisan luarnya crispy. Harganya cuma Rp. 500 /buah.

Bubur Cinta

Makanan satu ini, semua kalangan pasti tahu bahkan pernah mencicipinya. Tua maupun muda menggemari makanan tersebut. Hangat bisa, dingin apalagi? Makin seger kalau dimakan waktu panas-panas. Ini dia “BUBUR CINTA” agak unik nama kedainya. Mungkin kalau makan bersama pasangan bisa jatuh cinta kali?? Hahaha itu kata pemiliknya. Kedai ini bisa dijumpai di Pertigaan Jln Raya Morowudi-Cerme.  Pemilik kedai Bubur  ini konon katanya hanya iseng menambahkan nama Cinta di Buburnya. Kedai ini menyediakan bubur andalan yakni Kacang Ijo dan Ketan Ireng. Berdiri sejak tahun 2010, Bubur Cinta milik pak Mashudi setiap harinya cukup ramai. Dengan harga 4000 kita bisa menikmatinya. Cukup murah bukan?

Tahu Isi Iblis

            Tahu isi merupakan salah satu gorengan yang simple nan populer terutama dikalangan pelajar. Kalian yang ingin makan gorengan satu ini dengan rasa yang agak beda gak ada salahnya dong kalau kalian mampir ke outlet Mas Romi untuk mencicipi "Tahu Isi Iblis". Tahu isi iblis ini mulai dijajakan Mas Romi sejak 4 tahun yang lalu. Hem, cukup lama yaa ?. Jadi jika kalian penasaran atau kepo dengan rasanya dan sekedar ingin mencicipnya langsung saja datang ke GKB tepatnya di Jl. Kalimantan.

Raja dan Ratu Bakso Super

Dari segi nama saja sudah jelas bahwa makanan disini dijamin pasti unik dan beda dari yang lainya. Bagaimana tidak sesuai nama tempatnya yaitu “RAJA DAN RATU BAKSO SUPER”, emang makananya super banget, porsi baksonya ituloh yang bikin ngiler buat makan disini.  Cak war dan Mbak Yuli memulai bisnis tempat makan ini sejak tanggal 10 juli 2015. Walaupun masih dibilang pemula namun tempat makan di Jl Raya Bringkang ini sudah banyak di gandrungi oleh para pencinta makanan terutama bakso. Nggak hanya porsinya aja kok yang menggoda selera, cita rasanya juga nggak bisa diragukan lagi. So guys, buat kalian yang doyan makan dan pencinta kuliner wajib hukumnya mampir kesini!!. Tantang diri kalian buat abisin pors yang Subhanallah itu!!. Di jamin gak bakal rugi sobat.

Bakso Presiden

Makanan dengan ciri khas adonan daging dicampur tepung dan tidak lupa dengan kuah semua kalangan pasti mengenalnya. Tak lain dan tak bukan adalah bakso. Bakso kikil, bakso urat sudah biasa, tapi bagaimana dengan “Bakso Presiden”?. Bapak Gareng dan Ibu Ning Rahayu adalah pendiri kedai unik ini. Beliau mendirikan kedai ini pada 10 Januari 2007. Dinamakan Bakso Presiden karena Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden dan sebagai warga Negara yang baik kita harus menghormatinya. Penasaran? Silahkan datang ke kedai yang beralamatkan di Desa Gempol Kurung, Menganti-Gresik. Dengan harga 8000-15000 rupiah kita bisa menikmatinya. 

Sego Sambal Keprakk

          Bicara tentang sambal, Didaerah Cerme tepatnya Jalan Raya Pertigaan Morowudi Cerme Gresik terdapat menu makanan unik yaitu “ Sego Sambal Keprakk ”. Warung yang sudah didirikan sejak 5 tahun yang lalu ini dimiliki oleh pak Kavid. Sebenarnya makanan ini sama saja dengan tempe penyet dan keluarganya. Namun yang membedakan adalah cara pembuatan sambalnya, saat menumbuk bumbu menghasilkan suara keras “ prakk ”. Nah...dari itulah nama “ Sego Sambal Keprak ” diambil dan juga berawal dari mimpi pak Kavid. Tersedia banyak pilihan lauk, yaitu tempe, bebek, ayam, bandeng, lele, mujair, ikan Pe, panggangan tenggiri, dan juga telor dadar. Silahkan mampir ke warung sederhana “ Sego Sambal Keprakk ” karena harganya terjangkau sekitar Rp.8000,00  keatas dan rasanya pun dijamin sedapp.

            Itulah deretan kedai kecil di Gresik dengan nama yang unik. Jika ada yang lain, bisa sampaikan melalui kolom komentar. Sekian semoga bermanfaat.