Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

14 October 2017

Arti Jenitri Ganitri (Genitri) dan Mitos serta Faktanya

Arti Jenitri Ganitri (Genitri) dan Mitos serta Faktanya

Tulisan ini saya buat karena ada tetangga yang menawarkan sebuah obat langka dan berkhasiat. Kata langka dan berkhasiat adalah kata yang digunakan oleh tetangga tersebut. Memang, orang tua sedang sakit, jadi wajar saja jika ada yang menawarkan obat langka dan berkhasiat untuk bapak kepada saya.

Obat itu disebut genitri, dalam istilah lain disebut juga ganitri, jenitri, rudraksha,  bahasa latinnya adalah Elaeocarpus Ganitrus. Tentu saya tahu istilah ini dari penelusuran mendalam melalui mesin pencari google. 


Ketika pertama kali saya mencari dengan kata kunci jenitri yang muncul adalah blog kesehatan yang muncul 'numpang' domain ke blogspot. Sama juga dengan blog ini. Masih numpang. Karena masih numpang itulah kredibilitas (karena ini tentang kesehatan) informasi tersebut tidak dapat diterima sepenuhnya. Lalu bagaimana blog ini? Silahkan pembaca yang menilai. Hehehehe.

Menurut saya, informasi yang berkaitan dengan kesehatan, apalagi dibumbui dengan nominal harga yang fantastis, maka perlu dikonfirmasi melalui sumber yang kredibel. Kalau sekadar contoh pantun dan arti bahasa, saya rasa blog yang numpang di blogspot semaca ini masih bisa dipercaya. Cie membela diri.

Pada dasarnya saya termasuk orang yang sangat anti pada hoaks, bukan sekadar tidak percaya, tapi saya mau bersusah-susah untuk mencari informasi valid tentang sebuah berita hoaks kemudian menangkal informasi hoaks tersebut kemudian menyebar informasi valid kepada teman yang menyebar informasi hoaks.

Nah, saya posisikan jenitri dan nama lainnya tersebut sebagai 'terduga hoaks'. Maka saya mencari informasi yang cukup mendalam. Dalam beberapa blog yang muncul ketika saya menulis kata kunci jenitri, adalah blog yang 'miskin' informasi. Isinya sama, tentang manfaat yang sangat uwow!, hasil penelitian profesor India, dan jenis-jenis jenitri. Jelas saja, saya tidak langsung percaya.

Untuk mencari bandingan, saya gunakan kata kunci 'Ganitri Wikipedia' maka yang muncul adalah penjelasan 'Ganitri' dalam wikipedia berbahasa Indonesia. Dalam wikipedia berbahasa Indonesia, ditulis 'Jenitri'. Penjelasannya sangat terbatas:

Jenitri (Elaeocarpus ganitrus) adalah pohon yang termasuk suku Elaeocarpaceae. Buahnya berwarna ungu dengan biji yang cukup besar dan biasa digunakan sebagai manik-manik penyusun perhiasan. Kayunya memiliki nilai ekonomi tinggi. -- Wikipedia Bahasa Indonesia

Meskipun ensiklopedia bebas, setidaknya informasi dalam wikipedia lebih bisa diandalkan dari pada blog abal-abal.

Karena informasi yang sangat terbatas, maka saya gunakan kata kunci nama latinnya dan dipadukan dengan wikipedia. Maka yang ditawarkan oleh google adalah informasi dari wikipedia berbahasa inggris. Dalam wikipedia berbahasa Inggris tersebut, terdapat informasi tentang ganitri yang lebih lengkap.

Arti Kata

Dalam wikipedia berbahasa Inggris, dijelaskan berkaitan dengan nama Ganitri. Ditemukan di India, di daerah aliran sungai Gangga yang bersumber dari pegunungan Himalaya. Karena ditemukan di India, maka istilah yang digunakan untuk menyebut biji ini juga berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu rudraksha. Secara etimologis, rudraksha berasal dari dua akar kata yaitu rudra dan aksha. Rudra merujuk pada Siwa (shiva). Sementara kata aksha berarti tear drops. Jadi secara sederhana, rudraksha alias ganitri, jenitri, janitri, bisa disebut sebagai air mata dewa Siwa. 

Sementara kata ganitri adalah penyebutan spesies tumbuhan ini yang terdapat di Nepal, Melayu, dan Sunda. Berarti, tidak hanya ditemukan di India. Ganitri dan Jenitri ini juga ditemukan di sepanjang asia selatan hingga asia tenggara dan melanesia (papua) dan Australia.

Penamaan rudraksha berkaitan erat dengan tradisi dan agama yang ada di India. Jadi, buah ini dipercaya sebagai air mata dewa Siwa.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca sendiri pengertiannya di Elaeocarpus Ganitrus di Wikipedia ini.

Hasil Penelitian Saya tentang Ganitri

Tentu yang saya maksud dengan hasil penelitian adalah hasil pengamatan dan pencarian informasi dari google. Saya pikir ini juga hasil pengamatan, saya kan mengamati informasi dari google, tapi hasil pengamatan saya tentang ganitri, bukanlah hasil pengamatan atau hasil penelitian yang ilmiah.

Banyak tulisan di blog yang menyebut, 'berdasarkan penelitan Dr. Suhas Roy'. Nah setelah saya teliti, dan cari ternyata Suhas Roy adalah tidak ada di Benaras Hindu University. Saya kombinasikan beberapa kata kunci yang berkaitan dengan keduanya. Tidak bisa saya temukan. Apalagi ketika saya tulis, jenitri, atau rudraksha. yang muncul justru blog Indonesia.

Apakah Khasiat Genitri ini hoaks? Saya masih belum bisa menyimpulkan ke situ. Tapi, berdasarkan jurnal riset yang saya baca Lihat di sini dan di sini 

Ganitri memang memiliki kandungan senyawa kimia yang bermanfaat bagi tubuh manusi. Tapi sekali lagi peneliti dalam jurnal online yang saya temukan tersebut bukanlah Dr Suhas Roy apalagi Dr Sanjoy Roy.

Tambahan

Tambahan lagi, ternyata Gantiri itu bukan barang langka, karena banyak yang menawarkan di media. Bahkan ada yang jual di lazada, berbentuk tasbih dan aksesoris. Bisa dicicil pula di lazada. Dan, akhirnya saya tidak jadi beli dari tetangga.

20 April 2012

Pendidikan Karakter Ala Anak Kampung: Membuat Mainan Sendiri

Apakah mainan dalam gambar di atas adalah mobil?

Gambar tersebut diambil di dusun Mangaran Desa Sukamakmur Kec Ajung, Jember. Sebuah mainan yang sangat sederhana. Terbuat dari lapisan pohon pisang (debog dalam bahasa Jawa) sebagai badan mobil. Silinder terbuat dari ranting pohon bambu dan roda terbuat dari kayu yang berbentuk silinder.

Apa istimewanya mainan tersebut?
Dari segi desain, kekuatan dan daya jual sama sekali tidak ada.
Karena hanya terbuat dari debog maka usia maksimal mainan tersebut mungkin hanya dua hari. 
Pada hari ketiga badan mobil tersebut pasti sudah layu kemudian mengering.
Mobil-mobilan tersebut hanya bisa ditarik ke sana ke mari tanpa bisa dinaiki. Karena memang sangat sederhana.

Tapi, mobil-mobilan tersebut lebih istimewa dibanding mobil-mobilan produksi pabrik-pabrik. Kenapa? Karena merupakan hasil kreasi dan usaha anak-anak. Mobilnya memang tidak istimewa tapi proses memiliki mobil-mobilan itu sangat istimewa.

Untuk memiliki mobil tersebut, seorang anak harus berusaha. Mulai dari mengumpulkan bahan (kayu, pohon pisang, ranting bambu), kemudian merangkai, memotong, mengukur, melubangi sedemikian hingga sampai menjadi bentuk demikian. Proses membuatnya telah menjadi permainan yang mengasyikkan. Ini masih belum memainkan sudah merasa bahagia. Kalau sudah jadi dan siap dimainkan bersama teman-teman maka kebanggaan akan muncul. Ini mobil buatan sendiri.

Berbeda dengan mainan yang dijual di toko-toko. Usaha yang dilakukan seorang anak sangat mudah. Tinggal merengek bahkan menjerit-jerit jika perlu untuk minta dibelikan kepada orang tua.
Membuat mainan adalah salah satu pendidikan karakter yang hebat! Bagaimana harus berusaha, bagaimana berkreasi dan bagaimana berhemat. Jadi, karakter anak kampung seharusnya lebih mantap karena hampir semua mainan yang dimiliki harus membuat/dibuatkan (oleh orang tua). Setidaknya dengan mengetahui proses pembuatannya, seorang anak akan mengerti bagaimana pentingnya bekerja dan berusaha.

Dalam arti yang lebih luas, dengan membuat mainan sendiri meskipun bentuknya sangat jelek sekalipun. Lebih berguna karena mendidik anak untuk menjadi pembuat bukan sekedar pemakai. Jika ingin maju, anak Indonesia harus membuat mainan sendiri jangan hanya menjadi konsumen! Indonesia pasti bisa!

22 November 2009

Wisata Pantai Papuma (Pantai Pasir Putih Malikan) Jember - Jawa Timur

Karang di Pantai Papuma Jember

Pantai Papuma

Pantai Papuma alias Pasir Putih Malikan berada di bagian selatan Kabupaten Jember. Secara geografis Pantai Papuma berada di wilayah kecamatan Ambulu. Namun, secara de facto, akses menuju Papuma bisa dilewati melalui Kecamatan Ambulu.

Pantai Papuma bersebelahan dengan Pantai Watu Ulo dan Pantai Payangan. Pantai Payangan berada di sebelah timur pantai Watu Ulo, di sebelah barat pantai Watu Ulo, terdapat Pantai Papuma. Tepatnya berada di balik sebuah bukit.

Jalan Menuju Pantai Papuma

Akses menuju pantai Papuma dapat melalui Terminal Tawang Alun Jember, kemudian dilanjutkan kendaraan dengan tujuan Kecamatan Ajung untuk kemudian dilanjutkan ke Kecamatan Ambulu. Setelah sampai Pusat Kecamatan Ambulu perjalanan dilanjutkan ke arah desa Watu Ulo. Bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang ada.

Setelah sampai di desa Watu Ulo, jalan masuk untuk menuju ke Pantai Papuma bisa melalui dua jalur. Jalur yang pertama terlebih dahulu masuk ke Pantai Watu Ulo. Jalur yang kedua, tanpa melewati Pantai Watu Ulo, tetapi melewati hutan jati di kaki gunung.


Jalur yang pertama, melewati Pantai Watu Ulo, wisatawan dapat menikmati pemandangan berupa laut selatan di sepanjang jalan menuju Pantai Watu Ulo. Kelebihan akses ini adalah jalan yang lebar dan sudah ramai. Karena memasuki akses wisata dan perumahan warga. Tetapi kekurangannya, untuk menuju Pantai Papuma, pengunjung harus terlebih dulu membayar tiket masuk Watu Ulo, kemudian membayar lagi tiket untuk masuk ke Pantai Papuma.

Jalur yang kedua, melewati hutan Jati milik Perhutani. Dalam perjalanan pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan pohon jati dan persawahan warga. Kelebihannya, dari akses ini pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk ke Pantai Papuma tanpa harus masuk ke Pantai Watu Ulo terlebih dulu. Kekurangannya, jalannya cukup sempit. Selain itu, terkadang  pengunjung harus berpapasan dengan kendaraan besar yang mengangkut hasil pertanian warga dan hasil Hutan Jati berupa kayu gelondongan.

Setelah melewati pos pembelian tiket, pengunjung langsung disambut dengan tanjakan di punggung gunung. Jalanan tersebut cukup curam dan sempit. Pengendara yang menggunakan mobil pribadi harus ekstra hati-hati. Untuk pemotor, harus menggunakan gigi satu. Tetapi di situ jalan sudah terbagi dua yaitu jalan masuk dan jalan keluar, sehingga tidak mungkin berpapasan dengan kendaraan lain. Beberapa pengunjung yang datang berkelompok dan naik kendaraan terbuka biasanya berjalan kaki menuju Papuma karena kendaraan tidak berani masuk ke Papuma.

Pasir Putih dan Karang yang Eksotis
Perjalanan yang melalui tanjakan, tikungan, dan turunan melewati gunung, akan terbayar seketika setelah berhasil melihat laut. Di beberapa titik di jalan menuju Papuma, pengunjung bisa melihat luasnya samudera Hindia. Begitu sampai di objek wisatanya, pengunjung akan disambut hamparan pasir putih dengan deburan ombak. Di sepanjang pantai yang berpasir putih tersebut terdapat perahu nelayan dengan bentuk yang indah warna-warni.

Di Pantai Papuma juga terdapat bukit yang di atasnya disediakan gazebo. Untuk bisa mencapai gazebo di atas bukit tersebut, pengunjung harus berjalan kaki mendaki bukit. Dari gazebo tersebut pengunjung dapat mengamati hampir seluruh pemandangan yang ada di pantai Papuma.

Di sisi lain Pantai Papuma, tepatnya di kaki bukit sebelah barat terdapat formasi alami batu karang yang menjulang tinggi.  Deburan ombak laut selatan yang besar menghantam karang tersebut menampilkan pemandangan yang sangat eksotis. Pada bagian ini, tidak terdapat pasir putih di pantainya, melainkan tumpukan batu-batu berukuran cukup besar di sepanjang pantainya.

Ingat, seperti halnya pantai selatan yang lain, kontur bibir pantai di Pantai Papuma sangat curam. Dengan ombak yang sangat tinggi dan bebatuan karang, pantai ini sangat tidak tepat untuk dijadikan tempat berenang. Penjaga pantai selalu mengingatkan pengunjung untuk tidak berenang. Dalam beberapa jam sekali, penjaga pantai berkeliling memantau pengunjunug, meskipun sudah ada papan peringatan Dilarang Mandi di Laut.

Tertarik ke Pantai Papuma?