Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

31 October 2017

Contoh Cerita Fantasi Irisan dan Contoh Cerita Fantasi Total

Contoh Cerita Fantasi Irisan dan Contoh Cerita Fantasi Total

Cerita fantasi adalah cerita yang bersifat khayali. Dengan tiga struktur (bagian) yang meliputi Orientasi, Komplikasi, dan Resolusi.

Cerita fantasi dibedakan menjadi dua, berdasarkan daya khayalinya yaitu cerita fantasi total, dan cerita fantasi irisan.

Contoh cerita fantasi total yang terdapat dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia adalah Cerita fantasi yang berjudul 'Kekuatan Ekor Biru Nataga'. Contoh cerita tersebut disebut sebagai contoh cerita fantasi total karena seluruh tokoh, cerita, dan latar peristiwanya merupakan fantasi, tidak pernah ada dalam dunia nyata.


Contoh cerita fantasi tersebut memang terinspirasi oleh keindahan dan keadaan pulau komodo. Tapi, latar cerita dan isi cerita dalam contoh cerita fantasi itu sama sekali tidak menggambarkan keadaan di pulau Komodo. Meskipun nama kerajaannya mirip, yaitu Tana Modo. Bahkan tokoh-tokoh dalam cerita itu juga tidak pernah ada dalam keadaan nyata.

Selanjutnya contoh cerita fantasi irisan yang ada dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP kelas 7 antara lain adalah Belajar dengan Gajah Mada, Anak Rembulan, dan Berlian Tiga Warna, serta Ruang Dimensi Alpa. 

Keempat contoh cerita fantasi di atas termasuk dalam contoh cerita fantasi irisan karena ada kemungkinan, dan ada fakta dalam sejarah yang menjadi bagian dari cerita.

Jadi, cerita fantasi irisan adalah cerita fantasi yang ada bagian nyata ada pula bagian fantasi dalam cerita tersebut.

Misalnya dalam cerita Belajar dengan Gajah Mada ada bagian yang menceritakan pelajar sedang mengamati Candi Trowulan. Candi Trowulan memang benar-benar ada, pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Majapahit di kalan mahapatih Gajah Mada bertakhta. Candi Trowulan benar-benar ada dan menjadi situs sejarah di Mojokerto.

Mirip dengan ini, adalah cerita fantasi Anak Rembulan. Meskipun fantasi ada bagian cerita yang ada dalam keadaan dunia nyata. Misalnya ketika ada anak disuruh orang tuanya untuk membeli sesuatu di warung. Juga bagian dari sejarah, ketika tempat diyakini menjadi tempat persembunyian pejuang dari penjajah Belanda.

Biasanya dongeng yang menjdi cerita rakyat di seluruh wilayah nusantara juga mengandung cerita fantasi irisan. Ada bagian yang nyata, misalnya berkaitan dengan tempat yang ada  saat ini, ada pula bagian yang fantasi atau khayali yang tidak bisa diterima nalar manusia kebanyakan.

Misalnya legenda Asal-Usul Watu Ulo, menjadi contoh cerita fantasi irisan karena ada bagian cerita yang nyata yaitu adanya batu yang menjorok dari darat ke lautan yang bentuknya mirip dengan ular. Ada pula bagian yang tidak nyata, yaitu ular raksasa tersebut dilahairkan dari telur seekor ayam betina. Baca Cerita Lengkap Asal-Usul Watu Ulo.

Adapun di sini juga disediakan contoh cerita fantasi irisan dan contoh cerita fantasi total yang cukup singkat.

Contoh Cerita Fantasi Total


Pertempuran Permulaan

Kupu Rama sudah bersiap di gelanggang pertarungan. Ini adalah masalah harga diri. Dia keluarkan semua kekuatan. Belalai Api sudah dibawa. Seluruh panglima dan pasukannya sudah membawa senjata andalan masing-masing.

"Ini masalah harga diri! Kita harus membela sampai titik darah penghabisan. Mati bersimbah darah atau mati berkalang daun demi daun tumpah darah kita! Hidup negeri Tanambunga!" Kupu Rama memompa semangat pasukannya.

Dari keajuhan terdengar dengung pasukan Wonbah, mereka terbang dengan memanggul senjata andalan berupa Durirun Cing. Sebuah senjata dengan kekuatan dahsyat. Untung pasukan Kupu Rama sudah mengenakan tameng klorofil untuk meredam senjata itu.

Ketika dengan Wonbah sudah semakin dekat, Kupu Rama memberikan aba-aba menyerang kepada pasukan merah. Pasukan merah bertarung habis-habisan. Hanya tiga wonbah yang tumbang, sementara Kupu Rama kehilangan 30 pasukannya.

Wonbah merasa di atas angin, di sesumbar dengan lantangnya.
"Dasar kutu! kalian tidak akan bisa mengalah Bangsa Wonbah untuk mengusai negeri Tanambunga!"

Pasukan Kupu Rama yang masih tersisa masih bersembunyi. Pasukan hijau bersembunyi di balik daun, pasukan coklat menyatu dengan batang-batang. Wonbah dan pasukannya tidak menyadari hal ini. Wonbah dan pasukannya mendekati intisari Tanambunga hendak mengambil alih negeri ini.

Ketika Wonbah merasa menang, Kupu Rama memerintahkan semua pasukannya menyerbu bersama-sama. Mendapat serangan mendadak pasukan Wonbah menembakkan Durirun Cing degnan tergesa-gesa. Tembakannya meleset. Mereka kehabisan peluru. 

Pasukan Kupu Rama berhasil memukul mundur Wonbah. Sambil babak belur dan kehabisan amunisi, Wonbah berkata, "hari ini kami kalah. Tapi tunggu saatnya kami balas dan habisi kalian semua!"

Kupu Rama dan pasukannya tidak memedulikan ancaman Wonbah. Kupu Rama dan pasukannya bersorak sorai gembira bisa menjaga Daun Tumpah Darah mereka, Negeri Tanambunga!

Cerita di atas adalah contoh cerita fantasi total karena seluruh bagian cerita merupakan fiksi.

Contoh Cerita Fantasi Irisan

Semua cerita fantasi yang ada dalam blog ini merupakan contoh cerita fantasi irisan. Jadi silahkan dibaca di sini Contoh Cerita Fantasi Pustamun
Parafrase Puisi 'Cintaku Jauh di Pulau' Karya Chairil Anwar

Parafrase Puisi 'Cintaku Jauh di Pulau' Karya Chairil Anwar

Puisi Cintaku Jauh di Pulau adalah salah satu puisi percintaan karya Chairil Anwar. Serang sastrawan yang oleh HB Jassin disebut sebagai Pelopor Angkatan 45.


Puisi Cintaku Jauh di Pulau  menceritakan kisah cinta jarak jauh. Menurut istilah sekarang, Chairil Anwar dalam puisi ini sedang menjalani LDR-an. Puisi ini mengisahkan cinta yang terpisah oleh jarak dan terpisah oleh maut. 

Dalam penggambaran dalam puisi ini, Chairil Anwar menganalogikan hidup (kisah cintanya) dengan perahu dan laut. Sesuatu yang perlu perjuangan dan pelayaran untuk bisa menyatakan rasa cintanya.

Untuk lebih mudah memahami sebuah puisi, maka bisa dilakukan dengan cara membuat parafrase (memparafrasekan) puisi tersebut. Namun, sebelum membuat parafrasenya, lebih baik jika diketahui puisi lengkapnya.

Berikut puisi lengkapnya.


Cintaku Jauh di Pulau



Karya Chairil Anwar

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

(Chairil Anwar, 1946)

Parafrase puisi Cintaku Jauh di Pulau digunakan dan dibuat agar lebih mudah memahamipuisinya. Dengan membuat parafrase, kata-kata puisi yang pada dan singkat bisa lebih mudah dipahami. 

Parafrase Puisi Cintaku Jauh di Pulau

(gadis) Cintaku (berada) jauh di pulau (lain),
gadis (yang )manis, sekarang (sedang) iseng sendiri

(ketika) Perahu (telah) melancar, (saat) bulan memancar,
di leher(nya) (ingin) kukalungkan ole-ole buat si (gadis) pacar(ku itu).
angin membantu (perjalanan perahu), laut terang (oleh cahaya bulan), tapi terasa
aku tidak ‘kan (pernah) sampai padanya.

Di (saat) air (laut) yang tenang, di (saat) angin (bertiup) mendayu,
di (saat) perasaan (rindu) penghabisan segala (rasa, dan perahu) melaju
(saat perahu berlayar, justru)Ajal (sedang) bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan (untuk menuju ke arah cintaku) sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang (kunaiki) bersama (segala rasa rindu dan oleh-oleh) ‘kan merapuh!
Mengapa (justru) Ajal (yang) memanggil(ku) dulu
Sebelum sempat (aku bertemu dan) berpeluk dengan cintaku?!

(gadis) Manisku (tetap) jauh di pulau,
kalau ‘ku mati (dan tak sempat bertemu), (sampai) dia mati (akan mati) iseng sendiri (untuk menungguku).

Berdasarkan proses parafrase di atas, puisi Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar ini bisa diubah dalam bentuk paragraf narasi menjadi:

Gadis cintaku sedang berada jauh di pulau lain. Gadis yang sangat manis itu sedang menungguku sendirian.

Ketika perahu yang kusiapkan untuk menemui sudah berlayar, di saat bulan memancarkan cahayanya. Aku berangkan menemuinya dengan membawakan kalung dan oleh-oleh untuknya. Laut sangat tenang, angin pun membantu dengan meniup perahu ke arah tujuan.Laut pun sangat terang. Tapi aku justru merasa tidak akan pernah sampai kepadanya.

Saat laut tenang dan perasaan sangat rindu, justru aku merasa aku akan segera mati. 

Padahal jalan yang kulalui untuk menemui gadis cintaku sudah lama kutempuh, sudah bertahun-tahun. Tapi upaya yang selama ini bersama angan-angan rindu dan oleh-oleh yang telah kusiapkan sepertinya akan hancur. Mengapa harus bertemu ajal sebelum bertemu dengan cintaku. 

Gadis manisku masing sendiri, dan tetap sendiri. Jika aku mati dia pun akan sendiri sampai mati.


Dari narasi di atas, dapat diketahui bahwa aku sedang berusaha menuju menemui gadis pujaan hatinya. Dalam upaya menyatakan dan menemui cintanya, seakan-akan semua hal mendukung. Akan tetapi dalam perjalan justru ajal yang datang terlebih dahulu datang. Perjalanan yang sudah lama ditempuh dan diperjuangkan kalah oleh datangnya ajal tersebut.

Hingga gadis manis akan tetap sendiri menunggu aku. 

Demikian parafrase puisi Chairil Anwar yang berjudul Cintaku Jauh di Pulau. Semoga bermanfat dalam memahami puisi karya sastrawan angkatan 45 tersebut.

25 October 2016

Jejak Separuh

Jejak Separuh

Aku selimuti malam separuh
Petik nada di antara syi'ir
Petik jelaga di batas renta
Ada dawai seirama hati yang terbentuk bersama senja

Aku selimuti sejarah yang tak sempat dicatat
dalam malam separuh
Jemput nada untuk esok
Jemput mimpi untuk nanti
Ada jejak yang tetap harus diingat
meski kerap ada keringat mata tercerai

Aku selimuti malam dalam sejarah
setiap jejaknya adalah sejarah
setiap lakuknya adalah sejarah
Namun tak semua sejarah harus dicatat

Ada yang harus terlupakan
Atau dipaksa untuk dilupakan

22 October 2016

Permainan Tradisional (80 - 90an) Bagian 1

            Ketika era teknologi berkembang pesat, kita tentu menjadi bagian di dalamnya. Bermain gadget, PS, dll adalah kebiasaan masa kini. Hal itu tentu berbeda dengan ero tempo doeloe ketika orang tua kalian menjalani masa anak-anaknya. Berikut ini penulis sajikan sebagian dolanan tenar tempo doeloe tapi tidak lawas banget (1980 - 1990an) ala Jawa Timur, khusunya Gresik. Permainan-permainan itu menurut musimnya. Kata saya dulu (pas cilik) iki wayahe dulinan opo? (Ini waktunya bermain apa?)
1         Perang-perangan
Terinspirasi dari perang gerilya, permainan ini berupa dua tim yang berperang dengan senjata sebatang kayu/pelepah pisang dibentuk pistol. Kedua kubu sembunyi. Yang lebih dulu ucapkan dor ketika tahu lawannya, maka lawannya dinyatakan kalah. Jujur bangetz kan?
2         Bêntêngan
Yang ini juga serupa dengan perang-perangan. Kedua kubu saling tangkap. Ukurannya adalah yang terakhir megang benteng berhak menangkap lawan. Sanderaan di bawah ke benteng. Tim Kalah jika benteng yang dipunya berhasil diduduki (dipegang) oleh lawan. (dulu kok bisa sepakat gitu ya?)
3         Karetan
Permainan ini beradu kelihaian melempar bendel karet yang dipunya pada tancapan segitiga berganda (1 – 6). Jika lembaran kita nyangkut, maka dikalikan sesuai deretnya oleh bandar. Jika tidak, menjadi milik bandar. Bandar dilakukan secara bergantian ketika lawan berhasil memperoleh sangkutan. Karet biasanya ditumpuk dalam jumlah tertentu (agar berat), diikat, lalu dilemparkan ke tancapan segitiga.

4        Nggelas benang untuk layang-layang
Bermain layang-layang memang masih ada sampai sekarang. Yang hilang adalah moment nggelas atau menjadikan benang kita kuat. Caranya dengan membeli benang/senar nongelasan. Benang tersebut diolesi racikan dengan beragam campuran yakni ancur, pecahan kaca, air, dll. Lalu benang/senar dijemur dengan membentangnya, bisa di pohon atau pagar rumah.

5         Roko’an (Bungkus Rokok jadi uang)
Ini bukan merokok loh kawan. Ini adalah permainan lempar batu dengan modal rokok. Awalnya setiap peserta uduh lalu secara bergiliran melempar batu. Bungkus rokok yang keluar menjadi hak miliknya. Yang hebat, setiap bungkus rokok ada harganya dan dilipat sedemikian rupa. Rusak tidak berlaku. Ada kesepakatan tak tertulis misalnya Rp 1000 (maaf tidak promo) ialah gudang garam, Rp 10.000 (wismilak, bokormas), 100.000 (marlboro), dll. 

5         Klingsian (Adu kuat biji asam)
Yang ini ketika musim buah asam tiba. Adu kuat isi biji klungsu ini dengan cara mengasah biji sampai tersisa separuh lalu ditempel pada pecahan ubin/keramik/kaca. Hasil tempelan pun diadu. Milik siapa yang lepas dialah yang kalah. Proses penempelan “haram” menggunakan lem (kok bisa sepakat) tetapi bahan alami misalnya putih telur, air liur, getah pohon, dll. Agar rekatnya kuat, biasanya diganjal di bawah kursi, dipan, dsb agar kuat. Wuih hebatkan kawan?

5         Patil Lele (Pate Lele)
Yang ini cukup populer di berbagai daerah yakni permainan 2 buah tongkat. Tongkat pendek ±10cm yang disebut Patil (untuk dipukul) dan tongkat panjang ±40cm(pemukul). Sebelum bermain, lubang tanah sepanjang 8cm dibuat. Yang berbeda dengan daerah lain adalah bentuk hukuman. Kalau di desa asalku (Bedanten, Bungah) berupa arak-arakan yang kalah dengan menggigit patil sambil diteriaki asu nyokot balong. Penentuan jarak berdasarkan pukulan pemain yang menang. Kalau pesertanya 10 dengan masing-masing 10 pukulan, bisa 500m lebih jaraknya.

6        Boian atau Sembegan
Yang ini adu lihai menjatuhkan/menyusun kembali pecahan genteng. Bentuknya macam-macam, ada yang tim ada yang mandiri. Dulu saya paling sering yang tim. Peserta dibagi menjadi dua grup. Satu grup bertugas menjatuhkan lalu menyusun kembali. Grup lain menangkap lawan dengan melempar bola ke tubuh – kepala tidak dihitung (kena berarti tak boleh ikut menyusun). Permainan ini biasanya buyar ketika sudah ada yang nangis karena terkena lemparan bola terlalu kencang. Seru kan?


7.         Pande batu (kira-kira ini namanya)
Permainan ini memanfaatkan batu sebagai sarananya. Caranya, batu – dengan ukuran agak besar dan dipilih yang rata – diletakkan di atas punggung telapak kaki. Sambil jungkit (berjalan satu kaki) pemain mengarah ke tujuan lalu dilemparkan. Di bagian tujuan biasanya ada bungkus rokok, gambar, dll. Jika bungkus rokok dll keluar lingkaran, menjadi hak milik pemain. Jika batu jatuh sebelum dilempar, pemain tidak berhak melanjutkan permainan

18 June 2016

Bagaimana harusnya aku (1)

Bagaimana harusnya aku (1)

Bagaimana harus ku semai warna pelangi
ketika hujan terus saja datang menyeringai
mengubah terik jadi panik, mengubah cerah jadi gundah

Bagaimana harus ku maknai kata demi kata
ketika deret dan barisnya begitu menyentuh jiwa
mengubah senyum jadi dentum, mengubah dekat jadi pukat

Tak sanggup aku menjelaskan kerling yang berbias
di balik sunyi dan hening ada kilau, sangat menggoda
menelikung waktu yang ku punya dengan kata dan tanda

Tak mampu aku menguraikan suasana yang bergambar
sedangkan semua kian jauh saja,
melipat derai hujan tanpa payung dan menjadikannya tergenang
...aku yang membangun, aku yang merusaknya
...aku yang memintal awan, aku yang menjadikannya hujan
...aku yang melangkah, aku yang membuatnya berbekas

Bagaimana harus ku nikmati perjalanan ini
ketika jalan yang kita bangun adalah jembatan kecil nan rapuh
sangat mudah roboh diterpa tameng kenyataan
hanya bersandar pada sebilah batang bernama pengisi waktu luang



Bagaimana harusnya aku?

12 June 2016

Terjebak (1)

Terjebak (1)

Sudah sudah,
jangan sesali datangnya hujan yang terlanjur bermukim
biarkan saja ia berderai membawa kepingan sesal di satu waktu
biarkan saja ia menggenang

Kadang, aku teramat pongah betapa diri ini kuat
menyombongkan diri tak goyah dihantam badai suasana
menafikan arti kedip dan kata layaknya celoteh belaka
membiarkan bias kecil padahal diri teramat kerdil
berlindung pada sayap kalimat:
untung saya lebih muda
untung saya sudah bertameng
untung kita jauh.

Sudah sudah,
biarkan diri larut dalam bejana cerita nyata namun tak nyata
bermandi dengan puji, kerling, dan senyum
mengakrabi musim di suatu malam dimana kalimat penuh hikmat mengalir bersama
meski ada tameng kokoh berlabel kita itu...!!!!

Ah, dari mana harus ku mulai sebuah kisah
manakala ide tumpul tertabrak bilik kagum
yang berkembang pada musim subur,
menyatu dengan awan lalu membentuk hujan setiap akhir malam

Kadang, bahkan sering, kita itu kecil dan kerdil,
menyalahkan baris waktu yang menyita hati
lalu menyalahkan diri sendiri.

Padahal, ada tangan takdir istimewa yang bermuara.
setiap kisah dibangun oleh Kuasa,
kita yang menjalani dan berusaha untuk tetap bisa menikmatinya,
sepahit apapun rasanya.

15 February 2016

Pengertian dan Contoh-contoh Perumpamaan beserta Maknanya

Pengertian dan Contoh-contoh Perumpamaan beserta Maknanya

Perumpamaan adalah perbandingan laku/keadaan manusia dengan sesuatu yang ada di alam sekitarnya. Dari bentuk bahasanya perumpamaan berasal dari kata per-umpama-an. Kata dasarnya adalah /umpama/ yang bersinonim dengan /seperti/. Ciri-ciri perumpamaan diawali dengan kata seperti, bagai, atau bak.
Dalam postingan ini ditulis 36 contoh perumpamaan beserta maknanya.

1.      Bagai air di atas daun talas = orang yang tidak tetap hati atau bingung dan mudah terombang-ambing keadaan.

2.      Bagai ayam bertelur di lumbung padi = orang yang senang tiada khawatir kekurangan apapun.


3.      Bagai kumbang putus tali = sesuatu yang lancar jalannya.

4.      Bagai mencencang air tak putus/ bagai memahat di atas air = mengerjakan pekerjaan yang mustahil dan tidak mungkin untuk dikerjakan.

Perumpamaan | Sumber: Kartunmun muntijo.wordpress.com
5.      Bagai mendapat durian runtuh = mendapat keuntungan besar yang tak disangka-sangka.

6.      Biar lambat asal selamat tak lari gunung dikejar = mengerjakan sesuatu  dengan tenang agar berhasil dengan baik.

7.      Gajah berjuang sama gajah, pelanduk mati di tengah = jika ada dua orang besar (penguasa) sedang berselisih, maka yang menjadi korban dan menderita adalah orang kecil (rakyat)

8.      Gajah mati karena semut =  orang yang berkuasa dikalahkan oleh orang lemah

9.      Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading = orang besar (ternama) bila mati meninggalkan jasa yang besar (tetap dikenang)/ orang mati meninggalkan amalnya, jika baik ya baik yang dikenang, jika buruk ya keburukannya yang dikenang.

10.  bagai gadis jolong bersubang = orang yang sombong karena habis menerima kenyataan.

11.  Bagai harimau menyembunyikan kuku = orang yang menyembunyikan kelebihannya (kekuatannya).

12.  Bagai lampu kehabisan minyak = keadaan orang miskin (melarat) yang makin lama justru semakin susah.

13.  Bagai anak ayam kehilangan induk = kesusahan karena berpisah (kehilangan) panutan.

14.  Bagai anjing mengunyah tulang = orang yang selalu bersungut-sungut (mendengus marah).

15.  Bagai aur dengan tebing = dua orang yang selalu bersama dan rukun dan tak pernah berselisih (aur = bambu)

16.  Bagai ayam termakan rambut = bunyi nafas orang yang sesak.

17.  Bagai cacing kepanasan = keluh kesah orang yang mendapat masalah besar (keadaan yang sangat sulit)

18.  Bagai batu jatuh ke lubuk = orang yang sudah meninggalkan tempatnya dan tidak mungkin kembali lagi.

19.  Seperti bergantung di rambut sehelai = dalam kecemasan oleh suatu harapan yang tidak kuat.

20.  Seperti biduk dikayuh hilir = menyuruh orang yang hendak pergi

21.  Seperti bunga dadap, sungguh merah, berbau tidak = sesuatu yang tampaknya bak dan indah, tetapi sebenarnya biasa saja.

22.  Seperti durian dengan mentimun = lawan yang sangat tidak sebanding, satu sangat kuat lawannya sangat lemah.

23.  Seperti gunting makan di ujung = disangka tidak ada apa-apa tiba-tiba melakukan kejahatan.

24.  Seperti katak di dalam tempurung = menganggap dirinya sangat besar, merasa besar karena tidak mau membandingkan dengan orang lain.

25.  Seperti kejatuhan bulan = mendapat keuntungan yang luar biasa.

26.  Seperti kucing dengan anjing = orang yang tidak pernah bisa berdamai dan selalu cekcok (bertengkar)

27.  Seperti kucing dibawakan lidi = orang yang sangat ketakutan.

28.  Seperti kuda lepas dari pingitan = orang yang gembira karena baru saja lepas dari belenggu (aturan/ ikatan).

29.  Seperti lampu kekurangan minyak = orang yang benar-benar kesulitan.

30.  Seperti lima belas dengan tengah tiga puluh = hal yang sama (serupa)

31.  Seperti orang buta kehilangan tongkat = Mengalami keadaan yang sangat sulit dan tidak memiliki pegangan (sandaran).

32.  Seperti pinang dibelah dua = dua hal yang sama persis.

33.  Seperti rabuk dengan api = keadaan yang mudah dipertemukan (cocok)

34.  Seperti telur di ujung tanduk = dalam keadaan yang sangat sulit (berbahaya)

35.  Bagai kambing yang dimandikan = memberikan pekerjaan kepada orang yang tidak menyukai pekerjaan tersebut.

36.  Bagai siang dan malam = dua hal yang tidak pernah mungkin bisa bertemu dan dipersatukan.

Demikian penjelasan mengenai pengertian perumpamaan beserta contoh perumpamaan beserta maknanya. Jika masih ada perumpamaan yang belum tercantum di postingan ini dan ingin bertanya mengenai maknanya silakan tulis di kolom komentar. Baca Juga kumpulan contoh peribahasa

Pesan Moral Cerita Rakyat Asal-usul Pantai Watu Ulo Jembar Jawa Timur

Gambar Watu Ulo di Jember saat Surut
Jika ingin melihat cerita lengkap versi hasil penelitian Dr. Sukatman silakan klik tautan berikut ini Cerita Rakyat: Asal-usul Pantai Watu Ulo

Pada dasarnya sastra rakyat merupakan gambaran kehidupan manusia. Tafsir terhadap keadaan dan kehidupan manusia. Baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Pesan moral cerita rakyat asal-usul pantai Watu Ulo yang pertama adalah:

Manusia harus mendapatkan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya. Cerita asal-usul pantai Watu Ulo yang menceritakan seekor ayam yang mendengar mantra Ajisaka akhirnya bertelur dan beranak ular, menunjukkan bahwa makhluk hidup harus mensyukuri apa yang ada pada dirinya, dan harus menyesuaikan diri apa yang bisa diterima. Janganlah mendengar atau mendapatkan sesuatu yang belum sampai pada tingkatannya.

Lebih lebih dalam ilmu pengetahuan, juga dalam tingkat kedewasaan. Manusia seharusnya mendapat pengetahuan sesuai dengan tingkat usianya. Jagan sampai seorang anak mendapat pengetahuan tentang orang dewasa, baik dalam segi pengetahuan maupun dalam segi moral. Itu akan berbahaya bagi perkembangan psikis anak tersebut.

Pesan moral yang kedua dari cerita rakyat asal-usul pantai watu ulo ini merupakan tafsir yang hanya layak diketahui oleh orang dewasa. Sebagai pelajaran moral.

Ayam dalam cerita tersebut diibaratkan sebagai (maaf) “perempuan nakal” yang melakukan hubungan seksual sebelum waktunya. Diceritakan bahwa yang boleh mendengar mantra Ajisaka yang sudah pada tahapan tertentu. Tahapan tertentu itu dapat ditafsiri sebagai ‘orang dewasa yang sudah menikah’.

Karena si ayam mendengar rapalan mantra Ajisaka (dapat ditafisiri sebagai melakukan proses pembuahan sebelum waktunya) maka lahirlah anak ular raksasa. Mengapa ular? ular identik dengan sesuatu yang negatif. Identik dengan penjahat dan tidak baik. Dalam ajaran agama, proses kehamilan dianjurkan dengan cara baik. Didoakan, dan di-selameti agar menjadi anak yang baik. Nah, ular dalam cerita tersebut dapat ditafsirkan sebagai anak jadah (anak hasil zina) yang biasanya tidak sempat didoakan bahkan cenderung ingin dibunuh sebelum lahir. Maka, ketika anak itu lahir, cenderung memiliki sifat negatif.

Sementara itu, Ajisaka yang menolak untuk mengakui ular raksasa secara langsung sebagai anaknya menggambarkan watak ‘lelaki hidung belang’ yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Sehingga orang itu berbelit dengan memberikan syarat yang sangat sulit.

Ini hanyalah tafsir dari saya. Bukan bermaksud untuk menyinggung salah dari pembaca yang budiman. Hanya berusaha untuk sama-sama belajar.

12 February 2016

Cerita Rakyat Asal-Usul Watu Ulo - Jember - Jawa Timur: Sebuah Legenda

 Cerita Rakyat Asal-Usul Watu Ulo - Jember - Jawa Timur: Sebuah Legenda

Cerita asal-usul Watu Ulo merupakan salah satu jenis cerita legenda. Legenda adalah cerita rakyat mengenai asal-usul terjadinya sesuatu. Cerita berikut ini merupakan hasil saduran dari paparan narasi hasil penelitian Doktor Sukatman, Dosen Universitas Jember dalam bukunya Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia. Dalam buku tersebut, Sukatman menyebutkan bahwa cerita yang dia tulis merupakan hasil rangkuman dari cerita rakyat di daerah pesisir Watu Ulo.

Foto Batu yang disebut Watu Ulo
Berikut ini merupakan saduran versi saya sendiri.
Dahulu kala di tanah Jawa ada seorang sakti mandraguna. Dia bernama Ajisaka. Setelah melalui pengembaraan panjang sampailah Ajikasa di pantai selatan Jawa. Di pesisir selatan pulau jawa yang masih berupa hutan belantara Ajisaka membuka sebuah padepokan sebagai tempat menempa ilmu pengetahuan dan kanuragan untuk murid-murid pilihannya.

Wahai murid-muridku, hari ini aku akan memberikan ilmu pamungkasku kepada kalian.” Ajisaka mengawali pembicaraan di dalam padepokannya. Murid-muridnya mendengarkan dengan penuh perhatian wejangan dari gurunya tersebut.

Melihat murid-muridnya hanya menunduk takzim, Ajisaka melanjutkan pembicaraannya, “Ilmu yang akan aku berikan ini hanya boleh didengar dan diketahui oleh kalian yang sudah ada pada tingkatan tertinggi. Tidak boleh didengar oleh makhluk lain yang belum sampai pada tingkatan ini.”

“Berarti kami tidak boleh memberitahukan ilmu ini kepada orang lain?” salah satu murid Ajisaka memberanikan diri bertanya.

“Jangankan kau beritahu, mendengar rapalan manteraku pun tak boleh meskipun itu tidak sengaja. Bisa sangat berbahaya!” Ajisaka meninggikan nadanya.
Mendengar nada suara sang guru meninggi, murid-murid Ajisaka semakin dalam menunduk. Takut gurunya menjadi murka.

“Ketika nanti kalian sudah mendengar rapalan mantraku, kalian harus bertapa meminta petunjuk dari Tuhan yang mahakuasa untuk kemudian mengamalkan ilmu kalian dengan cara kalian masing-masing. Apakah kalian sanggup?” Murid-murid Ajisaka hanya menjawab dengan anggukan kepala.

“Apakah kalian benar-benar sanggup?” tanya Ajisaka lagi.

“Sanggup guru!” semua murid Ajisaka menjawab serentak masih dalam ketakziman.

Ajisaka berdiri, mengelilingi muridnya satu persatu. Melihat dalam-dalam ke wajah muridnya satu persatu. Sambil menunjuk kepada seorang murid yang duduk di dekat pintu, Ajisaka berkata, “Kau lihatlah ke luar sana. Pastikan tidak ada orang yang ada di dekat sini.”

Sang murid bergegas ke luar ruangan padepokan. Berjalan mengelilingi padepokan. Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, murid tersebut kembali masuk ke dalam padepokan. Melapor kepada sang guru.

Setelah mendapat laporan dari muridnya, Ajisaka memerintahkan muridnya untuk bersiap. Para murid bersila, memejamkan mata sampil menyimak dengan khusyuk rapalan mantra dari Ajisaka.

Tak disangka tak dinyana, ternya di luar padepokan ada seekor ayam betina yang mencari makan. Mengais-mengais tanah dengan kedua cakarnya. Begitu Ajisaka selesai merapal mantra, seketika itulah ayam betina tersebut bertelur. Sementara itu, murid-murid Ajisaka berpencar. Berjalan ke segala arah dengan tujuannya masing-masing. Mengikuti arahan sang guru untuk bersemedi. Begitu pula dengan Ajisaka. Dia melanjutkan perjalanannya mengembara ke seluruh tanah jawa. Menyebarkan ilmu dan kesaktiannya kepada murid-murid yang lain.

Setelah hari berganti, ayam betina kembali bertelur. Tetapi tidak sama dengan telur yang pertama. Jika telur yang pertama ukurannya besar. Telur-telur selanjutnya, ukurannya normal layaknya ukuran telur ayam biasanya. Setelah dierami 21 hari, akhirnya telur-telur tersebut.

Dari sekian anak ayam yang menetas, ada satu wujud yang membuat induk ayam terheran-heran. Telurnya yang paling besar menetaskan seekor ular yang cukup besar. Ular itu dapat berbicara.
“Ibu, mengapa bentukku begini? kenapa tidak sama dengan saudara-saudaraku yang lain?” Anak Ular bertanya kepada ibunya yang seekor ayam.

“Pun aku tak mengerti wahai anakku. Aku juga tidak  tahu.” Induk ayam juga kebingungan melihat wujud salah satu anaknya yang sangat tidak lazim.

“Apakah benar aku anakmu wahai ibuku?” Anak ular masih bertanya-tanya.

“Iya anakku, kau adalah anakku. Tapi, kala itu aku tak mengerti. Aku tiba-tiba bertelur ketika aku mencari makan di sini. Sehingga kuputuskan untuk membuat sarang di sini.”

Dalam kebingungannya, anak ular terus bertanya-tanya kepada siapa saja yang ditemuinya. Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang tua. Jauh dari tempatnya menetas,
“wahai orang tua, adakah kau mengerti siapa bapakku? Mengapa bentukku ular sementara ibuku adalah seekor ayam?”

“Mana aku mengerti wahai anak ular. Adakah aku percaya kepadamu bahwa kau adalah anak ayam? sedangkan tubuhmu berbentuk ular besar seperti ini?” lelaki tua yang ditanya justru balik bertanya.

“Aku tidaklah bohong wahai orang tua. Ibuku adalah seekor ayam yang tiba-tiba bertelur aku ketika mencari makan di sebuah padepokan yang sudah tidak ditempati lagi.” Anak ular yang sudah tumbuh besar berusaha menjelaskan.

“Oh, apakah kau berasal dari padepokan di tepi hutan itu? kalau benar. Hanya Ajisaka yang bisa menjawab, siapa bapakmu. Dia adalah orang sakti mandraguna yang banyak mengerti tentang banyak hal di tanah jawa ini.”

Setelah mendengar penjelasan dari lelaki tua yang ditemuinya, anak ular kembali melanjutkan perjalanan. Hari demi hari, bulan berganti, tahun berganti. Akhirnya tubuh anak ular semakin membesar. Berubah menjadi ular raksasa. Pada akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal Ajisaka.

Anak ular yang kini menjadi ular raksasa bertanya kepada Ajisaka,
“Wahai tuan yang yang mulia. Adakah tuan mengerti siapakah bapakku?”

“Iya wahai ular raksasa. Bapakmu adalah orang terhormat. Dia manusia terhormat terpandang di seantero tanah jawa.” Ajisaka menjawab penuh kewibawaan.

“Siapakah dia? bisakah aku menemuinya?”
“Bisa, sungguh bisa wahai ular raksasa. Kau bisa menemuinya. Tetapi tidak sekarang. Kau harus menemuinya dalam wujud manusia. Tidak dalam wujudmu yang seperti sekarang ini.”

“Baik wahai tuan yang mulia. Maukah tuan membantuku agar aku bisa berwujud manusia?”

“Apakah kau sungguh-sungguh ingin memiliki wujud manusia? Ada syarat yang berat yang harus kau lakukan.” Ajisaka memberikan syarat kepada ular raksasa.

Karena keinginan yang sangat kuat untuk bisa menemui orang tuanya, ular raksasa menyanggupi syarat yang diberikan oleh Ajisaka.
“Wahai ular raksasa, jika kamu ingin memiliki wujud manusia, kamu harus bertapa. Setengah badanmu harus di darat, sementara setengah badanmu harus berada di air.”

Mendengar arahan dari Ajisaka, ular raksasa bergegas mencari tempat untuk bertapa. Setelah sekian lama mencari tempat untuk bertapa, akhirnya dia memutuskan untuk bertama di tepi pantai. Agar tidak ada yang mengganggu, dia bertapa di sebuah hutan di kaki gunung pantai selatan. Bertahun-tahun dia bertapa tak kunjung juga menjadi manusia. Tubuhnya dipenuhi lumut dan akhirnya membatu.
Demikian cerita rakyat (legenda) asal-usul pantai watu ulo.